BERITA

FEB UNAIR GANDENG WALIKOTA MOJOKERTO DAN PRAKTISI UMKM BERI TIPS CALON WISUDAWAN HADAPI DUNIA NYATA

FEB UNAIR GANDENG WALIKOTA MOJOKERTO DAN PRAKTISI UMKM BERI TIPS CALON WISUDAWAN HADAPI DUNIA NYATA

(FEB NEWS) Sehari sebelum toga dikenakan, suasana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga justru dipenuhi refleksi. Bukan lagi soal nilai, skripsi, atau IPK, melainkan siapkah para lulusan menghadapi dunia nyata?

Sebanyak 334 calon wisudawan terdiri atas 194 sarjana, 118 magister, dan 22 doktor, duduk sebagai “murid” untuk terakhir kali dalam pembekalan menuju kehidupan pasca kampus. Berlokasi di Aula Fadjar Notonegoro Kampus Dharmawangsa-B FEB UNAIR, euforia kelulusan perlahan bergeser menjadi kesadaran baru dimana dunia di luar kampus tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Di hadapan para lulusan, Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Rudi Purwono, SE., M.SE. mengajak calon wisudawan menyimak secara seksama paparan tokoh inspiratif lintas sektor yaitu Hj. Ika Puspitasari, S.E., Wali Kota Mojokerto yang juga merupakan pemangku kebijakan, hingga praktisi UMKM Lusi S. Andajani dari inkubator “Barto and Friends”.

Akrab disapa Ika, walikota Mojokerto tersebut membuka sesi dengan pesan “Beyond Graduation: Dream Bigger, Aim Higher.”

Namun, dibalik narasi tersebut tersimpan realitas yang tidak ringan. Ia mengingatkan bahwa gelar akademik bukanlah tiket instan menuju kesuksesan, melainkan sekedar fondasi. “Setelah ini, kalian akan masuk ke dunia yang penuh ketidakpastian. Tidak cukup hanya pintar, tapi harus adaptif, inovatif, dan mampu membaca data,” ujarnya.
Ia menggambarkan dunia kerja hari ini sebagai ruang yang bergerak cepat, rapuh, dan sulit diprediksi. Lulusan dituntut untuk tidak hanya mengikuti arus, tetapi mampu menavigasi perubahan. Menariknya, Ika juga mengakui bahwa karier tidak selalu linear. Ia sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi kepala daerah. Namun, dari jalur yang tak direncanakan itu, ia justru menemukan ruang pengabdian yang lebih luas.

Jika sesi pertama berbicara tentang mimpi dan arah hidup, sesi berikutnya justru “membumi” bahkan cenderung menyentil realita yang sering luput.

Lusi S. Andajani, praktisi UMKM dari inkubator Barto and Friends, membawa cerita dari lapangan. Bukan dari ruang rapat atau kebijakan, melainkan dari gang-gang kecil tempat pelaku usaha bertahan hidup. Ia mengungkap ironi yang kerap terjadi di sektor mikro. “Banyak yang jualannya laris, tapi ternyata tidak pernah untung. Mereka bahagia karena ramai pembeli, padahal harga yang mereka tetapkan salah sejak awal,” ungkapnya.

Masalahnya bukan sekadar omzet, melainkan ketidaktahuan mendasar tentang struktur biaya, terutama dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Akibatnya, keuntungan yang seharusnya didapat justru tidak pernah benar-benar ada.

Lebih jauh, Lusi menilai bahwa berbagai pelatihan yang selama ini diberikan sering kali tidak menyentuh akar persoalan. Terlalu teoritis, kurang aplikatif. Ia memilih pendekatan berbeda dengan turun langsung ke kampung, berbicara dengan bahasa sederhana, dan mengajarkan konsep bisnis dari nol bahkan kepada pelaku usaha ultra mikro.

“Kalau mereka tidak kita dekati dengan cara yang sederhana, mereka tidak akan paham. Padahal dampaknya besar sekali bagi ekonomi,” ujarnya.

Melalui dua perspektif tersebut, kebijakan makro dan realitas mikro muncul satu benang merah yaitu lulusan tidak cukup hanya menjadi pencari kerja. Mereka ditantang untuk menjadi problem solver, bahkan social planner atau individu yang mampu membaca persoalan sosial dan merancang solusi nyata.

Pembekalan ini pada akhirnya menjadi ruang transisi dari dunia yang serba terstruktur menuju realitas yang penuh ketidakpastian.Lulusan didorong untuk bermimpi besar dan berani melangkah. Di sisi lain, mereka diingatkan bahwa dunia nyata sering kali tidak seideal yang dibayangkan, bahkan untuk sekedar memastikan sebuah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan.

Bahwa dunia nyata bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling siap beradaptasi dan memberi manfaat.

Editor: Sintya Alfafa