

(FEB NEWS) Surabaya – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga melalui Departemen Ekonomi Syariah kembali menggelar Guest Lecture Series dengan menghadirkan Dr. Murni Yusoff dari Pusat Kajian Pengurusan Pembangunan Islam (ISDEV), Universiti Sains Malaysia (USM). Kuliah tamu ini berlangsung dalam empat sesi pada Rabu–Kamis, 23–24 September 2026, dan terbuka bagi seluruh mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen FEB Unair.
Keempat materi Dr. Murni membahas bagaimana nilai dan kepercayaan dibangun dalam industri keuangan dan bisnis Islam di era digital. Setiap sesi juga dilengkapi aktivitas kelas interaktif, mulai dari diskusi kelompok, studi kasus, hingga pemungutan suara langsung.
Takaful sebagai “bisnis kepedulian”
Sesi pertama berlangsung Rabu (23/9) pukul 09.30 WIB di Ruang 318 dengan tema Exploring Takaful’s Value Beyond Financial Protection. Dr. Murni menjelaskan bahwa takaful merupakan skema perlindungan bersama yang berlandaskan ta’awun (tolong-menolong) dan tabarru’ (dana kebajikan). Pergeseran utamanya, menurut dia, adalah dari cara pandang “saya terlindungi” menjadi “kita saling melindungi”.
Ia memperkenalkan kerangka Takaful Value Journey: Protect → Connect → Strengthen → Sustain. Menurutnya, nilai takaful tidak berhenti saat klaim dibayarkan. Takaful juga memberi rasa aman, kesiapsiagaan, keberlangsungan keluarga, dan ketahanan. Meski begitu, ia menekankan bahwa takaful tetap sebuah bisnis yang membutuhkan tata kelola profesional dan solvabilitas. Tantangannya adalah menyeimbangkan integritas syariah, keberlanjutan komersial, dan nilai yang benar-benar dirasakan peserta.
Dari feed ke prompt: konsumen Muslim di era AI
Sesi kedua pukul 13.00 WIB di Ruang 321 mengangkat tema From Feed to Prompt: Shaping Perception in the AI-Driven Muslim Consumer Journey. Dr. Murni memetakan tiga era perjalanan konsumen. Pada era feed, konsumen melihat, dan tantangan pemasar adalah menarik perhatian. Pada era search, konsumen mencari, dan tantangannya adalah agar mudah ditemukan. Pada era prompt, konsumen bertanya kepada AI, dan tantangannya adalah relevansi.
Menurutnya, AI kini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga ikut membingkai cara konsumen menafsirkan sebuah merek. Bagi konsumen Muslim, penilaian itu juga mencakup jaminan halal, transparansi, keaslian, dan kesesuaian nilai. Melalui simulasi merek fiktif “NURA”, peserta merasakan langsung bagaimana kesan terhadap sebuah merek bisa berubah setelah membaca jawaban AI. Pertanyaan bagi pemasar pun bergeser dari “apakah mereka akan melihat kita?” menjadi “apa yang akan mereka pelajari saat bertanya tentang kita?”
Karyawan sebagai duta yang autentik
Hari kedua, Kamis (24/9), dibuka pukul 09.30 WIB di Ruang 202 dengan tema When Employees Become Ambassadors: An Islamic Perspective on Employee Advocacy. Dr. Murni membedakan tiga hal: promosi, advokasi, dan ambassadorship atau keterwakilan. Menurutnya, keautentikan seorang duta tidak cukup dibangun lewat komunikasi yang positif, tetapi juga lewat karakter.
Sebagai lensa etis, ia menawarkan empat sifat Nabi Muhammad SAW. Shiddiq berarti jujur dalam menyampaikan informasi, amanah berarti bertanggung jawab kepada semua pemangku kepentingan, fathanah berarti bijak membaca konteks, dan tabligh berarti berkomunikasi dengan jelas dan bermanfaat. Ia juga mengajak peserta merenungkan bahwa di era AI, mesin bisa berbicara, tetapi tanggung jawab moral untuk mewakili sebuah organisasi tetap berada pada manusia.
eWOM dan kepercayaan pada perbankan syariah
Sesi penutup pukul 13.00 WIB di Ruang 202 membahas From Content to Conversation: How Electronic Word-of-Mouth Builds Trust in Islamic Banking? Menurut Dr. Murni, tantangan terbesar lembaga keuangan Islam saat ini bukan lagi pertumbuhan pasar, melainkan menjaga kepercayaan masyarakat. Nasabah perbankan syariah tidak hanya bertanya “bisakah saya memercayai bank ini?”, tetapi juga “bisakah saya memercayai apa yang membuatnya Islami?”
Ia menjelaskan bahwa percakapan antarkonsumen di ruang digital (electronic word-of-mouth/eWOM) bisa membangun sekaligus meruntuhkan kepercayaan. Karena itu, bank syariah perlu mengelola percakapan tersebut melalui langkah listen, respond, clarify, educate, dan engage, bukan mengendalikannya. Lewat aktivitas kelas, peserta diajak menilai kredibilitas berbagai sumber, dari unggahan resmi bank dan ulasan nasabah hingga video viral TikTok. Pesan utamanya: jumlah tayangan yang tinggi belum tentu berarti kredibilitas yang tinggi.
Melengkapi rangkaian kuliah tamu USM
Kehadiran Dr. Murni Yusoff melengkapi rangkaian Guest Lecture Series FEB Unair bersama akademisi USM pada pekan yang sama, bersama Prof. Madya Dr. Zakaria Bahari dan Prof. Madya Dr. Mohd Syakir Mohd Rosdi. Rangkaian ini memperkaya perspektif sivitas akademika FEB Unair, khususnya tentang pemasaran Islam, keuangan sosial, dan tata kelola, sekaligus mempererat kerja sama akademik antara Universitas Airlangga dan Universiti Sains Malaysia.