BERITA

SYARIAH BAZAAR FESTIVAL 2026 JADI RUANG PRAKTIK BISNIS MAHASISWA EKONOMI ISLAM FEB UNAIR

SYARIAH BAZAAR FESTIVAL 2026 JADI RUANG PRAKTIK BISNIS MAHASISWA EKONOMI ISLAM FEB UNAIR

(FEB NEWS) Koridor lantai satu Gedung FEB UNAIR hari ini berubah menjadi pasar hidup yang berdenyut. Suasana transaksi langsung, dan semangat mahasiswa yang berdiri di balik meja tenant menjadi satu dalam pembukaan Syariah Bazaar Festival 2026 yang resmi dimulai pada Kamis (7/05/2026). Aktivitas ini menjadi muara dari proses panjang mata kuliah Kewirausahaan Bisnis Islam (KBI) Program Studi S1 Ekonomi Islam.

Mengusung tema “Nusantara Heritage Market: Celebrating Culture, Empowering Local Enterprise”, festival ini dirancang sebagai ekosistem terpadu yang mempertemukan kewirausahaan, kekayaan budaya Indonesia, dan edukasi bisnis berbasis nilai syariah. Produk-produk yang ditampilkan menjadi representasi rencana bisnis yang telah dirancang, diuji, dan kini harus membuktikan dirinya di hadapan konsumen nyata.

Acara pembukaan dihadiri oleh Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Islam, Sulistya Rusgianto, SE., MIF., Ph.D., dan Sekretaris Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi (BPBRIN) sekaligus dosen Ekonomi Islam, Dr. Achsania Hendratmi, SE., M.Si. Keduanya secara simbolis memotong pita sebagai tanda dimulainya festival.

Melalui sambutannya, Achsania menegaskan bahwa festival ini memiliki dimensi penilaian yang sangat konkret. Mahasiswa ditargetkan mencapai omset sebesar Rp20 juta sebagai bagian dari evaluasi akhir mata kuliah.

“Bazar ini adalah salah satu media untuk mencoba menjual produk secara langsung. Tidak cukup hanya dalam tataran teori, kuncinya adalah bagaimana merealisasikan ide bisnis dan terjun ke pasar. Tidak harus menjadi pebisnis, tetapi tidak ada salahnya mencoba mencari pendapatan melalui side hustle,” ujarnya.

Sementara itu, Sulistya Rusgianto memberikan perspektif yang lebih dalam tentang makna di balik target omset tersebut. Baginya, angka bukan tujuan utama melainkan indikator dari sebuah proses berpikir yang lebih fundamental.

“Omset itu hanya dampak. Yang lebih penting adalah pengalaman terjun di market, mempelajari habit konsumen, dan mengikuti logika berpikir yang sudah diajarkan. Kekonsistenan cara berpikir itulah yang menjadi nilai utama,” tegasnya.

Sulistya juga mengungkapkan bahwa ia akan langsung turun ke setiap tenant untuk menguji pemahaman mahasiswa secara langsung mempertanyakan siapa kompetitor mereka, apa nilai yang ditawarkan, dan bagaimana strategi menyampaikan nilai tersebut kepada target pasar.

“Pada akhirnya yang saudara dapatkan bukan sekadar omset, bukan sekadar nilai A tetapi pengalaman inilah yang akan membentuk kualitas nalar dan cara berpikir rekan-rekan,” pungkasnya.

Syariah Bazaar Festival 2026 menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran kewirausahaan di FEB UNAIR tidak berhenti di ruang kelas. Upaya untuk memadukan praktik bisnis langsung, nilai-nilai Islam, dan apresiasi terhadap kekayaan budaya Nusantara, kegiatan ini menegaskan komitmen Program Studi Ekonomi Islam dalam mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga siap dan berani menghadapi realitas dunia usaha.

Editor: Sintya Alfafa