
(FEB NEWS) Isu limbah organik dan tingginya biaya pakan ternak menjadi perhatian serius bagi sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR). Berangkat dari keresahan tersebut, Tim Powerpuff menghadirkan inovasi bisnis berbasis green economy bernama “GreenFeed” dan berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Unesa Business Model Canvas Competition (UBMCC) 2026.
Kompetisi yang mengusung tema “Menjadi Agen Perubahan melalui Inovasi Model Bisnis Berbasis Green Economy dalam Mendukung Pencapaian SDGs” tersebut diselenggarakan oleh UKM Kewirausahaan Universitas Negeri Surabaya dan berlangsung pada Minggu, 24 Mei 2026 di Gedung O6 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.
Tim Powerpuff terdiri dari 3 mahasiswi Ilmu Ekonomi 2025 atas nama C. Chessa Agni Maheswari bersama Elsa Rahayu Nuril Anwar serta Catharine Geraldy Cokro. Dalam kompetisi tersebut, mereka berhasil bersaing dengan 111 tim dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah menengah atas di seluruh Indonesia.
Alih-alih menghadirkan ide bisnis konvensional, Tim Powerpuff mengembangkan GreenFeed — Circular Feed System Based on Black Soldier Fly (BSF), sebuah inovasi agribisnis yang mengolah limbah organik menjadi pakan ternak dan pupuk bernilai ekonomi melalui proses biokonversi larva Black Soldier Fly.
Melalui inovasi tersebut, limbah organik tidak lagi dipandang sebagai masalah lingkungan semata, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi solusi ekonomi berkelanjutan. GreenFeed menghadirkan tiga produk utama, yakni BSF Protein Feed sebagai pakan ternak tinggi protein, Dried Maggot untuk meningkatkan nutrisi ternak, serta Organic Fertilizer (Frass) sebagai pupuk organik hasil sampingan budidaya BSF.
Menurut tim, GreenFeed dikembangkan untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni tingginya limbah organik dan mahalnya biaya pakan bagi peternak. Dengan pendekatan circular economy, GreenFeed mampu memanfaatkan 100 persen limbah organik dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi dalam waktu relatif singkat.
“Kami percaya inovasi bisnis tidak hanya harus menguntungkan, tetapi juga mampu menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang nyata,” ungkap Chessa.
Konsep GreenFeed juga dinilai relevan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), SDG 13 (Climate Action), dan SDG 15 (Life on Land).
Perjalanan Tim Powerpuff menuju podium juara berlangsung melalui beberapa tahapan seleksi yang kompetitif. Pada tahap awal, seluruh peserta diminta menyusun Business Model Canvas (BMC) sesuai tema kompetisi. Setelah lolos seleksi administrasi dan penilaian ide bisnis, tim melanjutkan perjuangan ke babak semifinal melalui pengumpulan video presentasi konsep bisnis.
Berkat pengembangan konsep yang matang dan kolaborasi tim yang solid, Tim Powerpuff berhasil masuk ke jajaran Top 10 Finalis dan melaju ke babak final. Pada tahap tersebut, mereka mempresentasikan inovasi GreenFeed secara langsung di hadapan dewan juri sekaligus menjawab berbagai pertanyaan terkait keberlanjutan dan implementasi model bisnis.
Bagi Tim Powerpuff, UBMCC 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi ruang belajar untuk mengembangkan ide bisnis yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Kompetisi ini juga menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun relasi, dan mengasah kemampuan berpikir strategis dalam pengembangan bisnis berkelanjutan.
Semangat tersebut tercermin dalam motto yang mereka usung, yakni “Bersama kami, peternak bisa lebih sejahtera. Lingkungan bisa lebih bersih. Dan bisnis bisa tetap menguntungkan. Karena di GreenFeed, Better Feed, Better Yield.”
Prestasi Tim Powerpuff menjadi bukti bahwa mahasiswa FEB UNAIR mampu menghadirkan inovasi bisnis yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga relevan dengan tantangan lingkungan global. Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat komitmen FEB UNAIR dalam mendukung lahirnya generasi muda yang kreatif, adaptif, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.