BERITA

FEB UNAIR GANDENG ALUMNI DIASPORA, HADIRKAN WAWASAN STUDI DAN KARIR INTERNASIONAL

FEB UNAIR GANDENG ALUMNI DIASPORA, HADIRKAN WAWASAN STUDI DAN KARIR INTERNASIONAL

(FEB NEWS) Kerasnya persaingan dunia kerja menuntut mahasiswa tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga berani melompat ke panggung global. Sayangnya, keberanian itu kerap terhalang rasa takut, takut berbeda, takut gagal, takut jauh dari keluarga. Sehingga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga pada Kamis (23/4/2026), di Aula Fadjar Notonegoro FEB UNAIR, tembok ketakutan itu mulai runtuh.

Itulah yang terasa dalam sharing session yang digelar dengan  menghadirkan dua generasi alumni dalam satu forum, dimana mereka yang telah menapaki karir global, dan mahasiswa yang sedang mencari arah.

Kegiatan ini dibuka oleh Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Islam, Sulistya Rusgianto, SE., MIF., Ph.D., serta Opening Speech oleh Drs. Ec. Mulyo Wiyono selaku Ketua IKA UNAIR Cabang Internasional Belanda.Dipandu oleh moderator Dr. Dina Fitrisia Septiarini, SE., MM., Ak (Ketua Unit Kompetensi, Karir dan Keberdampakan Alumni), sesi ini menghadirkan Qatrunnada Rahmadhani, S.A., BSc., MSc., yang kini berkarier sebagai Medior Corporate Action Specialist di ABN Amro Clearing Bank, Belanda.

Akrab dengan sapaan Mulyo, alumni FEB UNAIR angkatan 1967 yang kini menjabat Ketua IKA UNAIR Cabang Internasional Belanda. Melalui sambutannya, ia tidak menawarkan cerita yang muluk. Justru sebaliknya ia menyoroti bagaimana dunia kerja hari ini telah berubah, terutama dengan hadirnya teknologi yang menghapus banyak batas geografis.

“Sekarang tidak selalu harus hadir di kantor. Dunia kerja semakin fleksibel. Ini membuka peluang lebih luas, termasuk bagi anak muda yang ingin berkarir di luar negeri,” ujarnya.

Pernyataan tersebut seperti menjadi jembatan menuju sesi utama yang dibawakan oleh Qatrunnada Rahmadhani, alumni FEB UNAIR yang kini berkarier di Belanda. Ceritanya tidak dibangun sebagai kisah sukses instan, melainkan rangkaian keputusan yang tidak selalu mudah.

Perjalanannya dimulai dari program double degree antara Universitas Airlangga dan Saxion University of Applied Sciences. Ia menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude dari kedua institusi, lalu melanjutkan karir sebagai analis keuangan di AbbVie Netherlands B.V. Pengalaman itu kemudian membawanya melanjutkan studi magister di Universitas Utrecht, hingga akhirnya berlabuh sebagai Corporate Actions Specialist di ABN AMRO Clearing Bank. Namun dibalik capaian itu, ada fase yang jarang disorot yaitu proses adaptasi.

Nada nama panggilnya, ia bercerita tentang perbedaan budaya dan cara komunikasi yang tidak selalu mudah dipahami di awal. Ia harus menyesuaikan diri, tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dari mengelola waktu hingga menghadapi tantangan hidup jauh dari keluarga.

“Hidup di luar negeri menuntut kita untuk mandiri. Semua harus dikerjakan sendiri, dan itu membentuk cara berpikir yang berbeda,” ungkapnya.

Di titik ini, forum tidak lagi sekadar menjadi sesi berbagi pengalaman, melainkan ruang refleksi. Banyak mahasiswa mulai melihat bahwa karir global bukan hanya soal kesempatan, tetapi juga kesiapan mental dan keberanian keluar dari zona nyaman.

Ketua Unit Kompetensi, Karir, dan Keberdampakan Alumni FEB UNAIR, Dr. Dina Fitrisia Septiarini, menilai kegiatan ini sebagai upaya menghadirkan alumni sebagai sumber pembelajaran nyata. Sementara itu, Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Islam, Sulistya Rusgianto, menekankan pentingnya membangun kesiapan mahasiswa sejak dini tidak hanya secara akademik, tetapi juga keterampilan pendukung seperti bahasa asing dan jejaring profesional.

Menariknya, di tengah jarak geografis yang jauh, hubungan dengan Indonesia tetap terjaga. Qatrunnada rutin kembali ke Surabaya melalui skema work from anywhere (WFA), serta aktif dalam komunitas profesional muda Indonesia di Belanda. Ia juga terlibat dalam jaringan alumni UNAIR di luar negeri sebuah lingkaran yang terus menghubungkan kampus dengan dunia global.

Di akhir sesi, pesan yang muncul tidak terdengar berlebihan. Sederhana, tapi relevan yaitu peluang selalu ada, tetapi tidak datang tanpa kesiapan.

Editor: Sintya Alfafa