
(FEB NEWS) – Tidak banyak orang yang memilih kembali ke desa setelah mengenyam pendidikan di salah satu universitas terbaik Indonesia. Ahmad Maulana bukan hanya memilih kembali, ia memilih menjadikan desa sebagai medan juangnya.
Keputusan tersebut ia ambil bukan tanpa sebab dan risiko. Setelah menyelesaikan studi S1 Ekonomi Islam FEB UNAIR melalui program Beasiswa Santri Berprestasi yang kini menjadi LPDP Santri, Ahmad sempat bekerja di lembaga riset yang menangani berbagai proyek internasional bersama NGO seperti AUSAID. Kariernya di kota sebenarnya cukup menjanjikan.
Tetapi selepas menikah pada 2020, ia melihat sesuatu yang terus mengganggu pikirannya saat kembali ke Banyuwangi. Ketika harga buah naga yang jatuh setiap panen raya, hasil pertanian yang terbuang, dan petani yang sulit menikmati nilai ekonomi dari kerja keras mereka sendiri. “Desa bukan sekadar tempat pulang. Saya melihatnya sebagai ruang juang,” ujarnya.
Berbekal uang mahar pernikahannya, Ahmad membangun PT Oreng Osing Banyuwangi. Kemudian nama tersebut lahir dari dua identitas budaya yaitu Madura dan Osing. Perusahaan tersebut bergerak di bidang olahan hasil pertanian lokal, mulai dari sale buah naga, keripik buah naga, bagiak, hingga berbagai produk pangan khas Banyuwangi lainnya.
Di tengah banyaknya produk oleh-oleh yang seragam, Ahmad memilih jalan berbeda. Salah satu langkah yang membuat PT Oreng Osing dikenal adalah keberaniannya mengembangkan sale buah naga, produk yang kemudian menjadi inovasi baru di industri olahan pangan lokal Indonesia. “Inovasi itu lahir karena kami melihat buah naga terlalu banyak terbuang saat panen raya. Jadi yang kami pikirkan bukan hanya produknya, tapi bagaimana petani juga bisa selamat,” tuturnya.
Perjalanan itu tidak berlangsung instan. Ahmad mengaku melewati proses riset yang panjang sebelum menemukan formulasi produk yang tepat dan mampu diterima pasar. Perlahan, usaha yang dimulai dari skala kecil tersebut berkembang menjadi tiga lini bisnis industri olahan pangan, pusat oleh-oleh, dan layanan digital marketing.
Kini jaringan distribusi PT Oreng Osing telah menjangkau lebih dari 300 mitra di Jawa Timur, Bali, dan Yogyakarta. Namun baginya, angka pertumbuhan bisnis bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia justru lebih banyak berbicara tentang dampak sosial yang tumbuh di sekitar usahanya.
PT Oreng Osing menggandeng dua kelompok tani dengan lebih dari 100 petani buah naga dan pisang di Banyuwangi melalui skema contract farming yang lebih berkeadilan. Di sisi lain, ruang produksinya juga membuka peluang kerja yang lebih layak bagi perempuan usia lanjut yang sebelumnya bekerja kasar di kebun.
“Ibu-ibu yang dulu kerja berat di ladang, sekarang bisa bekerja di ruang produksi dengan kondisi yang lebih manusiawi,” ujarnya.
Di luar bisnisnya, Ahmad juga aktif sebagai instruktur pengembangan UMKM dan memimpin koperasi petani milenial Banyuwangi. Ia kerap menjadi pembicara di berbagai kampus dan forum pengembangan kewirausahaan, mulai dari Poliwangi, Polbangtan Malang, hingga instansi pemerintah daerah.
Jejaknya di dunia kewirausahaan turut membawanya meraih berbagai penghargaan seperti Top 20 Nasional Pengusaha Muda BRILiaN 2023, Youngpreneur Pertamina Foundation 2023, Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian, hingga pemenang Jagoan Tani Banyuwangi 2024.
Meski demikian, Ahmad merasa akar dari semua proses itu sudah mulai terbentuk sejak menjadi mahasiswa FEB UNAIR. Ia dikenal aktif di berbagai organisasi kampus sejak semester awal, mulai dari HIMA Ekonomi Islam, BEM, AcSES, hingga komunitas penalaran dan gerakan santri mahasiswa.
“Di UNAIR saya belajar melihat masalah dengan cara pandang yang lebih besar. Kampus menjadi tempat saya ditempa untuk berpikir dan membangun keberanian,” pungkasnya.
Editor: Sintya Alfafa