BERITA

FEB UNAIR Buka Ruang Edukasi Investasi Bagi Generasi Muda Melalui SOSEDU APRDI 2026

FEB UNAIR Buka Ruang Edukasi Investasi Bagi Generasi Muda Melalui SOSEDU APRDI 2026

(FEB NEWS) Rendahnya literasi pasar modal di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan, meski indeks literasi keuangan nasional telah mencapai 66,46 persen dan inklusi 80,51 persen, literasi pasar modal baru berada di angka 17,78 persen dengan tingkat inklusi hanya 1,34 persen. Kesenjangan ini menegaskan perlunya upaya edukasi yang lebih masif, khususnya bagi generasi muda.
Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Ekonomi Islam FEB UNAIR bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan APRDI menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) APRDI 2026 pada Rabu (8/04/2026) di Aula Soepoyo. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi nasional yang menyasar mahasiswa di lima kota besar di Indonesia.
Melalui sambutannya, Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Rudi Purwono, menegaskan bahwa kehadiran program edukasi seperti ini menjadi langkah strategis dalam menjawab rendahnya literasi pasar modal di kalangan mahasiswa. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting tidak hanya dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademik, tetapi juga kompetensi praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Mahasiswa perlu didorong untuk tidak hanya memahami konsep keuangan, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan aset secara bijak. Literasi investasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang adaptif terhadap dinamika ekonomi,” ujarnya.
Mengusung tema kemudahan berinvestasi melalui reksa dana, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan instrumen investasi, tetapi juga membangun pola pikir finansial yang lebih terstruktur. Peserta diajak memahami pentingnya perencanaan keuangan, mulai dari pengelolaan pendapatan, alokasi kebutuhan, hingga strategi investasi jangka panjang. Pendekatan ini menekankan bahwa investasi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari siklus kehidupan finansial yang perlu dirancang sejak dini.
Sesi pemaparannya, Rahmat Fajar dari Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Timur menyoroti kondisi makroekonomi Indonesia yang masih berada dalam tren pertumbuhan 4–5 persen. Ia menjelaskan bahwa sebagai bagian dari negara G20, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, seperti tensi geopolitik, risiko fiskal, serta ketidakpastian perdagangan global. Namun dibalik itu, peluang tetap terbuka lebar.
“Beberapa sektor riil menunjukkan kinerja positif, dan pasar modal memiliki potensi yang atraktif. Kondisi pasar yang sedang melemah justru bisa menjadi momentum untuk membeli saham dengan fundamental baik di harga yang relatif murah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pergeseran perilaku masyarakat dari saving society menuju investment society menjadi sinyal positif bagi perkembangan pasar modal Indonesia. Meski demikian, edukasi tetap menjadi kunci agar keputusan investasi dilakukan secara rasional dan berbasis analisis.
Sementara itu, Business Development Manager PT Bibit Tumbuh Bersama, Febsa Ardiani, memperkenalkan konsep investasi yang lebih sederhana dan inklusif melalui reksa dana. Ia menjelaskan bahwa reksa dana memungkinkan investor pemula untuk berinvestasi tanpa harus memiliki keahlian mendalam, karena pengelolaannya dilakukan oleh manajer investasi profesional.
Melalui program PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala), peserta didorong untuk membangun kebiasaan investasi secara konsisten. Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan mahasiswa yang mulai merencanakan keuangan jangka panjang, sekaligus mempersiapkan diri memasuki industri keuangan.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya literasi dalam menghadapi risiko finansial, seperti inflasi dan ketidakpastian masa depan. Melalui pemahaman yang tepat, investasi tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan nilai aset, tetapi juga menjadi instrumen dalam memenuhi kebutuhan hidup yang terus berkembang.
Editor: Sintya Alfafa