BERITA

BANGKITKAN POTENSI, AMBIL POSISI, CIPTAKAN PERUBAHAN”: INGGRIT AULIA WATI HASANAH HARUMKAN FEB UNAIR SEBAGAI JUARA 2 LOMBA ESAI NASIONAL TYIF 2026

BANGKITKAN POTENSI, AMBIL POSISI, CIPTAKAN PERUBAHAN”: INGGRIT AULIA WATI HASANAH HARUMKAN FEB UNAIR SEBAGAI JUARA 2 LOMBA ESAI NASIONAL TYIF 2026

(FEB NEWS) Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Inggrit Aulia Wati Hasanah, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Melalui gagasan kritis dan berbasis data, Inggrit berhasil meraih Juara 2 kategori Lomba Esai Nasional dalam ajang THINKLEADERS YOUTH INTELLECTUAL FESTIVAL (TYIF) 2026.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Thinkleaders Indonesia tersebut diikuti oleh pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Mengusung tema besar “Speak Ideas, Write Impact”, ajang nasional ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyampaikan ide, gagasan kritis, serta solusi inovatif terhadap berbagai persoalan bangsa melalui karya tulis ilmiah dan public speaking.

Kompetisi TYIF 2026 telah berlangsung sejak 15 Maret 2026 dan dilaksanakan secara daring (online) dengan cakupan peserta tingkat nasional. Adapun pengumuman pemenang dilaksanakan pada 25 April 2026.

Dalam kompetisi tersebut, Inggrit mengangkat esai berjudul “KEBOCORAN POTENSI: SAATNYA PEMUDA AMBIL POSISI”. Melalui karya tersebut, ia membahas besarnya bonus demografi Indonesia yang belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas kepemimpinan pemuda serta kesiapan sumber daya manusia. Isu pengangguran, kualitas pendidikan, hingga kesiapan tenaga kerja menjadi fokus utama yang ia gambarkan sebagai bentuk “kebocoran potensi” yang perlu segera direspons melalui kepemimpinan pemuda yang kritis, progresif, dan berintegritas.

Menurut Inggrit, bonus demografi tidak akan memberikan dampak optimal apabila generasi muda hanya menjadi kelompok usia produktif secara statistik. Ia menegaskan bahwa pemuda harus mampu mengambil posisi sebagai penggerak perubahan yang adaptif, solutif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi bagian dari statistik usia produktif, tetapi harus mampu mengambil posisi sebagai penggerak perubahan,” ungkapnya.

Dalam esainya, Inggrit menekankan tiga fondasi utama kepemimpinan yang perlu dimiliki generasi muda. Pertama, kepemimpinan kritis, yakni kemampuan membaca persoalan sosial dan ekonomi secara analitis serta berpikir solutif berbasis data. Kedua, kepemimpinan progresif yang mendorong pemuda untuk menciptakan inovasi, membuka peluang, dan menghadirkan transformasi sosial maupun ekonomi. Ketiga, kepemimpinan berintegritas yang menempatkan nilai moral, tanggung jawab, dan keberlanjutan sebagai dasar dalam membangun perubahan.

Proses penyusunan esai dilakukan melalui analisis mendalam terhadap berbagai data nasional dan internasional. Inggrit memanfaatkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, hingga sejumlah penelitian internasional terindeks Scopus yang membahas bonus demografi, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kepemimpinan pemuda.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam kompetisi ini adalah mengintegrasikan data, penelitian, dan analisis secara sistematis agar gagasan yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Ia juga berupaya menyusun esai dengan bahasa yang argumentatif dan berbasis data agar mampu menghadirkan sudut pandang yang kuat mengenai pentingnya peran pemuda dalam mengoptimalkan bonus demografi Indonesia.

Motivasi Inggrit mengikuti TYIF 2026 lahir dari keresahannya terhadap kondisi sumber daya manusia Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi bonus demografi. Sebagai mahasiswa di bidang manajemen, ia melihat persoalan pengangguran, rendahnya kemampuan berpikir kritis, dan belum optimalnya kepemimpinan pemuda sebagai tantangan nyata yang perlu mendapat perhatian bersama.

Melalui prestasi ini, Inggrit tidak hanya berhasil mengharumkan nama FEB UNAIR di tingkat nasional, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa FEB UNAIR mampu menghadirkan kontribusi intelektual yang relevan terhadap isu pembangunan bangsa.
Ia pun membawa motto inspiratif yang menjadi semangat perjuangannya dalam berkarya, yaitu “Bangkitkan Potensi, Ambil Posisi, Ciptakan Perubahan.”

Prestasi yang diraih Inggrit menjadi bukti bahwa mahasiswa FEB UNAIR tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keberanian intelektual, kepedulian sosial, serta kemampuan berpikir kritis dalam menghadirkan solusi bagi masa depan Indonesia. Capaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen FEB UNAIR dalam mencetak generasi muda yang unggul, progresif, dan berdaya saing global.