

(FEB NEWS) Komitmen FEB UNAIR untuk perkuat internasionalisasi pendidikan kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Guest Lecture dan Collaborative Teaching bersama akademisi Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Strategic Mobility for Academic, Collaboration & Excellence (SMART-ACE) Programme yang mempertemukan mahasiswa dan dosen kedua institusi dalam forum akademik bertaraf internasional.
Menghadirkan Dr. Maizura Binti Isa Kamarudin dan Husnizam Bin Hosin dari UiTM Johor, kegiatan ini membahas dua isu strategis yang tengah menjadi perhatian dunia keuangan global, yakni tantangan pengembangan Islamic Finance serta perkembangan Behavioural Corporate Finance dalam memahami perilaku pengambilan keputusan investor.
Dalam sesi bertajuk Issues and Challenges in Islamic Finance, Dr. Maizura menjelaskan bahwa keuangan syariah merupakan sistem penyediaan layanan keuangan yang berlandaskan prinsip fiqh muamalah dan nilai-nilai Islam. Menurutnya, keuangan syariah tidak hanya diperuntukkan bagi umat Muslim, tetapi juga dapat diakses oleh seluruh masyarakat karena menawarkan prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan.
“Islamic finance dibangun di atas prinsip pelarangan riba, gharar, dan maysir. Tujuannya bukan semata memperoleh keuntungan, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” jelas Dr. Maizura.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama keuangan syariah adalah mewujudkan maqashid syariah yang mencakup perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Namun demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kecenderungan meniru model keuangan konvensional, persoalan transparansi dalam skema profit-loss sharing, hingga belum seragamnya standar syariah antarnegara Muslim.
Menurut Dr. Maizura, penguatan literasi publik, peningkatan kualitas regulasi, serta standarisasi tata kelola syariah menjadi langkah penting untuk mempercepat perkembangan industri keuangan syariah di masa depan. “Kesadaran masyarakat dan dukungan regulasi yang responsif menjadi kunci agar Islamic Finance dapat berkembang lebih inklusif dan kompetitif,” ujarnya.
Sementara itu, sesi Collaborative Teaching bersama Husnizam Bin Hosin membawa mahasiswa FEB UNAIR memahami bagaimana faktor psikologis mempengaruhi keputusan keuangan. Melalui topik How to Make Better Decisions? Lessons Learned from Behavioral Corporate Finance, ia menjelaskan bahwa perilaku investor tidak selalu berjalan sesuai asumsi rasional sebagaimana digambarkan dalam teori keuangan tradisional.
“Behavioural finance berupaya memahami bagaimana manusia benar-benar mengambil keputusan investasi, bukan bagaimana mereka seharusnya mengambil keputusan,” jelas Husnizam.
Ia mengulas berbagai fenomena empiris yang menantang Efficient Market Hypothesis (EMH), termasuk anomali pasar, calendar effects, hingga berbagai bias psikologis yang mempengaruhi perilaku investor. Salah satu contoh yang dibahas adalah Gambler’s Fallacy, yaitu kecenderungan seseorang mempercayai bahwa suatu peristiwa akan lebih mungkin terjadi hanya karena peristiwa sebaliknya telah berulang kali muncul sebelumnya. Selain itu, Husnizam juga mengenalkan Prospect Theory dari Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menjelaskan bahwa manusia cenderung merespons keuntungan dan kerugian secara berbeda ketika mengambil keputusan dibawah ketidakpastian.
Bagi FEB UNAIR, forum ini menjadi lebih dari sekadar kuliah tamu internasional. Kegiatan menjadi ajang dan momen perluas wawasan global mahasiswa melalui paparan langsung terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik keuangan internasional.
Editor: Sintya Alfafa