

(FEB NEWS) Prestasi internasional kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga. Tim lintas disiplin yang terdiri dari mahasiswa Akuntansi, Ekonomi Islam, Farmasi, Teknik Biomedis, dan Teknik Elektro berhasil meraih Gold Medal dalam ajang World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang berlangsung di Malaysia dan diikuti peserta dari lebih dari 15 negara.
Dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR yang tergabung dalam tim tersebut adalah Muhammad Maulana dari Program Studi Akuntansi dan Abu Shidqi Alhafiz dari Program Studi Ekonomi Islam. Penghargaan diumumkan pada Selasa (20/05/2026) setelah tim berhasil mempresentasikan inovasi unggulannya di hadapan dewan juri internasional.
Tim memperkenalkan inovasi bertajuk ARCTI-PLA (Technology-Integrated Customizable PLA Orthotic with Reusable Cooling System for Pain Relief, Bone Healing Optimization, and Sustainable Healthcare Innovation). Produk ini berupa orthotic berbahan PLA yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pengguna serta dilengkapi sistem pendingin yang dapat digunakan berulang kali untuk membantu meredakan nyeri dan mendukung proses pemulihan tulang.
Kompetisi WYIE sendiri menjadi salah satu ajang inovasi internasional yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, dan inovator muda dari berbagai negara untuk mempresentasikan solusi terhadap beragam tantangan global. Selama kompetisi berlangsung, peserta mengikuti tahapan presentasi, penjurian, hingga diskusi bersama delegasi internasional mengenai perkembangan teknologi dan inovasi masa depan.
Keunggulan ARCTI-PLA terletak pada integrasi aspek kesehatan dan keberlanjutan dalam satu produk. Selain dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien selama masa pemulihan, inovasi ini juga memanfaatkan material yang lebih ramah lingkungan serta sistem pendingin reusable yang mampu mengurangi penggunaan material sekali pakai.
“Pencapaian ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami karena dapat membawa karya mahasiswa Indonesia ke panggung internasional sekaligus belajar dari berbagai inovator muda dunia,” ujar Muhammad Maulana.
Dalam proses pengembangannya, tim melakukan riset terkait kebutuhan pengguna orthotic dan mengidentifikasi berbagai tantangan yang sering dihadapi pasien selama masa rehabilitasi. Hasil riset tersebut kemudian diterjemahkan menjadi desain produk yang lebih adaptif, praktis, dan berorientasi pada kenyamanan pengguna.
Abu Shidqi Alhafiz menilai penghargaan ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap ARCTI-PLA dapat menjadi langkah awal pengembangan solusi kesehatan yang lebih adaptif dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkapnya.
Selain mengikuti kompetisi, tim juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi dan membangun jejaring dengan delegasi dari berbagai negara. Pengalaman tersebut memperluas wawasan mengenai perkembangan teknologi kesehatan dan inovasi berkelanjutan di tingkat global.
Editor: Sintya Alfafa