

(FEB NEWS) Departemen Manajemen FEB UNAIR kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan internasionalisasi melalui penyelenggaraan CUBIC 2026 (Cultural–Business Immersion and Connection Program). Program student inbound ini diikuti oleh 52 mahasiswa dari lima negara, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Madagaskar, dan Indonesia.
Kegiatan resmi dibuka melalui opening ceremony pada Senin (20/04/2026) yang berlangsung di Aula Tirto Lantai 2 FEB UNAIR. Momentum ini menjadi titik awal rangkaian program yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran global yang terintegrasi, memadukan aspek akademik, budaya, dan praktik industri.
Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Rudi Purwono,SE.,M.SE, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan bahwa CUBIC 2026 merupakan bagian dari strategi institusi memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas lulusan. “Agar mahasiswa tidak hanya memahami teori saja, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks global yang dinamis,” ujarnya.
Selama lima hari, peserta diajak menyentuh langsung ekosistem industri dan budaya Jawa Timur. Mereka mengunjungi JNT Waru (perusahaan logistik), membatik di Mojokerto, belajar manajemen produksi di Museum Kapal Api, hingga mengikuti workshop tari dan karawitan di UKTK Kampus C UNAIR. Ada pula city tour Surabaya, Kota Tua, serta international corner untuk diskusi lintas budaya.
Ketua Departemen Manajemen FEB UNAIR, Dr. Yetty Dwi Lestari, SE.,MT., menjelaskan bahwa CUBIC dirancang untuk mendorong kolaborasi lintas disiplin dan budaya. “Kami mengintegrasikan academic exchange dengan project-based learning, sehingga mahasiswa dapat mengembangkan solusi nyata berbasis pemahaman lintas budaya,” jelasnya.
Puncak kegiatan berlangsung pada sesi project presentation, dimana peserta mempresentasikan hasil proyek yang telah disusun secara berkelompok. Proyek ini menuntut kemampuan analisis, kolaborasi, serta pemahaman terhadap isu-isu praktis di dunia bisnis global.
Prof. Rudi menambahkan bahwa interaksi antar peserta dari berbagai negara menjadi nilai tambah dalam program ini. “Keberagaman latar belakang peserta menciptakan ruang diskusi yang kaya dan memperkuat perspektif global mahasiswa,” tuturnya.
Lebih lanjut, program ini menegaskan hanya berorientasi pada pengalaman jangka pendek, tetapi juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan. “Kami berharap jejaring yang terbentuk dapat berkembang menjadi kerja sama akademik maupun profesional di masa depan,” pungkasnya.
Didukung oleh FEB UNAIR dan LPDP melalui skema Equity, CUBIC 2026 menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat posisi FEB UNAIR sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap dinamika global. Program ini diharapkan mampu mencetak mahasiswa dengan kompetensi internasional, sekaligus menumbuhkan semangat inovasi dan kolaborasi lintas budaya di era globalisasi.
Editor: Sintya Alfafa