
(FEB NEWS) JOMBANG – Rabu (26/8/2026), mahasiswa peserta WISDOM 2026 (World Immersion in SustainWonomerto) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia, dan Taiwan berkunjung ke Desa Wonomerto, Jombang. Suasana internasional semakin kuat dengan keterlibatan mahasiswa berkewarganegaraan Myanmar, Kazakhstan, dan Arab Saudi yang turut berpartisipasi dalam kegiatan.
WISDOM 2026 yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa lintas negara untuk terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Setelah sebelumnya memperoleh pengayaan mengenai sustainability dan pembelajaran lintas budaya, para peserta diajak melihat secara langsung kondisi Desa Wonomerto sebagai lokasi pengembangan proyek.
Melalui kegiatan tersebut, peserta WISDOM 2026 menggali potensi, kebutuhan, serta tantangan yang dihadapi Desa Wonomerto. Keberagaman latar belakang mahasiswa diharapkan dapat menghadirkan perspektif global dalam memahami kondisi dan potensi desa.
Selain mahasiswa internasional, Departemen Manajemen FEB UNAIR juga melibatkan mahasiswa baru dalam kegiatan tersebut. Sebelumnya, para mahasiswa baru mendapatkan tugas untuk mengembangkan ide proyek berdasarkan permasalahan dan potensi yang dimiliki Desa Wonomerto. Dari proses tersebut, tiga kelompok dengan ide terbaik dipilih untuk mengikuti kegiatan lapangan bersama peserta WISDOM 2026.
Kegiatan di Wonomerto diawali dengan pemaparan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wonomerto yang disampaikan oleh Tekad selaku Ketua Pokdarwis. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi desa, perjalanan pengembangan pariwisata, potensi yang dimiliki, serta sejumlah tantangan yang masih dihadapi masyarakat.
Peserta kemudian mengikuti area tour untuk mengenal lebih dekat berbagai titik yang menjadi bagian dari potensi wisata Wonomerto. Dalam perjalanan tersebut, peserta mendapatkan informasi mengenai asal-usul, cerita, serta karakter dari setiap titik yang dikunjungi.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses observasi. Sebelum merumuskan gagasan proyek, mahasiswa didorong untuk terlebih dahulu memahami konteks lokal dan melihat secara langsung sumber daya serta potensi yang telah dimiliki desa.
Proses observasi kemudian dilanjutkan melalui fun focus group discussion (FGD). Tidak berlangsung dalam ruang rapat formal, mahasiswa justru berdiskusi bersama di area sungai. Berbekal informasi yang diperoleh selama observasi, peserta bertukar temuan, mengidentifikasi persoalan, serta mulai menyusun gagasan proyek yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan Wonomerto.
Ketua Departemen Manajemen FEB UNAIR, Dr. Yetty Dwi Lestari, mengatakan kegiatan lapangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan ide proyek mahasiswa. WISDOM juga menjadi bagian dari proses pendampingan yang dilakukan Departemen Manajemen terhadap Wonomerto sebagai salah satu desa binaannya.
“Kami tidak ingin mahasiswa datang ke desa hanya untuk melihat, kemudian selesai. Mereka perlu mendengar masyarakat, memahami potensinya, menemukan persoalannya, kemudian memikirkan apa yang secara realistis dapat dikembangkan. Ide-ide yang muncul dari WISDOM nantinya dapat menjadi bagian dari proses pendampingan yang kami lakukan secara berkelanjutan,” ujar Yetty.
Menurut Yetty, keterlibatan mahasiswa dengan beragam latar belakang juga memberikan keuntungan tersendiri. Perspektif mahasiswa Indonesia dan internasional dapat menghadirkan cara pandang baru terhadap potensi yang selama ini mungkin dianggap biasa oleh masyarakat setempat.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu upaya meningkatkan exposure Desa Wonomerto kepada masyarakat yang lebih luas. Pengalaman langsung mahasiswa internasional diharapkan dapat memperkenalkan potensi desa melalui jejaring, cerita, maupun gagasan yang mereka bawa kembali ke negara dan institusi masing-masing.
“Kami ingin Wonomerto semakin dikenal, tetapi exposure itu harus berjalan beriringan dengan kesiapan masyarakat dan pengembangan yang berkelanjutan. Karena itu, prosesnya kami mulai dari pemetaan, observasi, diskusi dengan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan proyek,” tambah Yetty.
Dekan FEB Universitas Airlangga, Prof. Rudi Purwono, menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak harus selalu berlangsung di dalam kampus. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dan perguruan tinggi dari berbagai negara dalam menyelesaikan persoalan masyarakat justru dapat menjadi bentuk nyata dari pengabdian kepada masyarakat dalam perspektif internasional.
“Ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat internasional karena kolaborasi tidak hanya melibatkan Universitas Airlangga, tetapi juga perguruan tinggi dari tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Taiwan. Di dalamnya juga terdapat mahasiswa dengan latar belakang kebangsaan yang semakin beragam, termasuk Myanmar, Kazakhstan, dan Arab Saudi. Mereka bertemu langsung dengan masyarakat, memahami persoalan lokal, kemudian membawa perspektif global untuk bersama-sama mencari gagasan yang relevan,” ujar Rudi.
Prof. Rudi menekankan bahwa dimensi internasional dalam pengabdian kepada masyarakat bukan semata-mata ditentukan oleh keberadaan peserta asing, melainkan oleh proses pertukaran pengetahuan dan perspektif lintas negara yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui WISDOM 2026, FEB UNAIR berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada ruang kelas. Pertemuan antara mahasiswa lintas negara, mahasiswa baru, dan masyarakat Wonomerto menjadi ruang untuk menghubungkan perspektif global dengan kebutuhan lokal, sekaligus membangun gagasan pengembangan desa yang berkelanjutan.