BERITA

KULIAH TAMU FEB UNAIR BERSAMA KONSUL JENDERAL JEPANG BAHAS KONTRIBUSI INDUSTRI DAN KOLABORASI INDONESIA–JEPANG

KULIAH TAMU FEB UNAIR BERSAMA KONSUL JENDERAL JEPANG BAHAS KONTRIBUSI INDUSTRI DAN KOLABORASI INDONESIA–JEPANG

(FEB NEWS) Kontribusi perusahaan Jepang terhadap pembangunan Indonesia serta peluang penguatan hubungan ekonomi kedua negara menjadi bahasan utama dalam Kuliah Tamu “Kontribusi Perusahaan Jepang terhadap Pembangunan Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Jumat (11/9/2026), di Aula Fadjar Notonegoro FEB UNAIR.

Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Takonai Susumu, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, sebagai narasumber, dengan Magdalena Triasih Dumauli, S.E., M.Ec., Ph.D. sebagai moderator. Kuliah tamu menjadi ruang bagi mahasiswa FEB UNAIR untuk memperoleh perspektif langsung mengenai perkembangan perusahaan Jepang di Indonesia, kontribusinya terhadap pembangunan nasional, serta peluang hubungan dan kolaborasi Indonesia–Jepang.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan III FEB UNAIR, Novrys Suhardianto, SE., MSA., Ak., Ph.D., menyampaikan bahwa kehadiran Konsul Jenderal Jepang di Surabaya merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan realitas dunia ekonomi, industri, bisnis, dan regulasi.

Menurut Novrys, mahasiswa perlu memahami bagaimana teori yang dipelajari di ruang kelas diterapkan dalam kehidupan nyata. Jepang menjadi salah satu negara yang menarik untuk dipelajari, terutama karena keberhasilan perusahaan-perusahaannya mempertahankan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Ia mengajak mahasiswa untuk menggali lebih jauh nilai-nilai yang membuat industri Jepang mampu bertahan dan berkembang, termasuk pada berbagai sektor yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti otomotif, elektronik, makanan dan minuman, hingga industri kreatif.

“Hard skill-mu soal ekonomi, soal bisnis bisa saja digantikan oleh mesin. Tapi soft skill, communication skill, dan managerial skill itu tidak bisa digantikan oleh mesin,” ujar Novrys.

Pesan tersebut menegaskan bahwa penguasaan ilmu ekonomi dan bisnis perlu berjalan beriringan dengan kemampuan komunikasi, manajerial, serta soft skill lainnya yang semakin penting di tengah perkembangan teknologi.

Novrys juga mendorong mahasiswa untuk melihat Jepang sebagai salah satu ruang pengembangan kapasitas dan karier. Menurutnya, mahasiswa FEB UNAIR memiliki peluang untuk berkontribusi dalam dunia kerja dan bisnis Jepang dengan membekali diri melalui kompetensi akademik sekaligus kemampuan interpersonal dan profesional.

Hubungan FEB UNAIR dengan Jepang, lanjutnya, juga tidak berhenti pada kegiatan akademik. Kehadiran mahasiswa Jepang yang tengah mengikuti exchange program di FEB UNAIR menjadi salah satu contoh nyata terbukanya ruang interaksi dan pertukaran pengalaman lintas budaya.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi awal bagi terbangunnya kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan antara FEB UNAIR dengan Jepang, baik melalui kegiatan akademik, pertukaran mahasiswa, maupun berbagai bentuk kerja sama internasional lainnya.

Memasuki sesi utama, Dr. Takonai Susumu memaparkan perkembangan perusahaan Jepang di Indonesia serta berbagai bentuk kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat 3.643 perusahaan Jepang di Indonesia pada 2025, sementara 165 perusahaan Jepang berada dalam wilayah kerja Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya.

Dari sisi investasi, data Kementerian Investasi/BKPM yang dipaparkan menunjukkan bahwa investasi Jepang di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar USD 3,129 miliar, menempatkan Jepang sebagai salah satu negara dengan investasi terbesar di Indonesia pada tahun tersebut.

Dr. Takonai juga menunjukkan sejumlah indikator kontribusi perusahaan Jepang terhadap pembangunan Indonesia. Pada periode 2010–2025, investasi Jepang tercatat sekitar USD 5,4 miliar. Sementara berdasarkan data 2018 yang dipaparkan, kontribusi perusahaan Jepang mencakup penciptaan 7,2 juta lapangan kerja, kontribusi 8,5 persen terhadap PDB, serta 24,4 persen terhadap ekspor.

Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari kontribusi tersebut. Berdasarkan materi yang disampaikan, lebih dari 50 ribu orang memperoleh pengembangan pada bidang manajemen, sementara lebih dari 250 ribu orang mendapatkan pengembangan pada bidang teknis dan keahlian.

Khusus di Jawa Timur, kehadiran perusahaan Jepang juga menunjukkan peran yang cukup besar. Materi yang dipaparkan mencatat terdapat 154 perusahaan Jepang di Jawa Timur yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto.

Sektor manufaktur menjadi bidang dengan jumlah perusahaan terbesar, disusul ritel dan perdagangan, logistik, konstruksi, keuangan, serta agrikultur. Data tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia–Jepang tidak hanya berlangsung pada tingkat nasional, tetapi juga memiliki kontribusi nyata terhadap aktivitas ekonomi di tingkat daerah.

Lebih dari sekadar investasi, Dr. Takonai menjelaskan sejumlah karakteristik yang menjadi nilai tambah perusahaan Jepang. 5S/5R, Kaizen atau perbaikan berkelanjutan, Monozukuri, pengembangan sumber daya manusia, pekerjaan jangka panjang, dan Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi beberapa aspek yang disoroti dalam pemaparannya.

Pengalaman Jepang dalam membangun kembali perekonomian setelah Perang Dunia II juga menjadi bagian dari pembahasan. Dr. Takonai menekankan pentingnya sinergi antara pembangunan infrastruktur dengan investasi pada sumber daya manusia dan pendidikan. Dalam konteks industri, budaya Kaizen yang menempatkan perbaikan berkelanjutan sebagai bagian dari proses kerja juga menjadi salah satu nilai yang dapat dipelajari.

Selain membahas kontribusi industri, mahasiswa juga memperoleh informasi mengenai peluang pendidikan di Jepang melalui beasiswa Monbukagakusho (MEXT). Program beasiswa Pemerintah Jepang tersebut mencakup jenjang sarjana, pascasarjana, pendidikan vokasi, hingga program studi bahasa Jepang.

Program tersebut menawarkan sejumlah fasilitas, antara lain pembebasan biaya pendidikan, tunjangan hidup, serta tiket pesawat pulang-pergi Indonesia–Jepang. Informasi tersebut membuka perspektif mahasiswa mengenai peluang melanjutkan pendidikan sekaligus memperluas pengalaman akademik di Jepang.

Pengalaman pendidikan di Jepang turut menjadi bagian dari pesan yang disampaikan Novrys. Ia memperkenalkan moderator kegiatan, Magdalena Triasih Dumauli, S.E., M.Ec., Ph.D., sebagai akademisi yang memiliki pengalaman menempuh pendidikan S2 dan S3 di Jepang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu contoh bahwa interaksi akademik internasional dapat memberikan bekal tidak hanya dalam aspek keilmuan, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, dan wawasan global.

Melalui kuliah tamu tersebut, mahasiswa FEB UNAIR tidak hanya diajak memahami kontribusi perusahaan Jepang terhadap perekonomian Indonesia, tetapi juga melihat berbagai nilai, pengalaman, dan peluang yang dapat menjadi bekal untuk menghadapi dunia kerja serta membangun jejaring internasional.

Pertemuan tersebut sekaligus memperkuat komitmen FEB UNAIR untuk menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan dinamika dunia nyata, memperluas pengalaman internasional mahasiswa, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan antara Indonesia dan Jepang.