

(FEB NEWS) Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) angkatan 2023, Muhammad Alif, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 2 pada cabang Fotografi Jurnalistik dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Timur 2026. Penghargaan tersebut diumumkan pada 13 Juli 2026, setelah rangkaian kompetisi berlangsung sehari sebelumnya di Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
PEKSIMIDA merupakan ajang bergengsi yang mempertemukan mahasiswa berbakat dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Timur. Pada kategori Fotografi Jurnalistik, peserta ditantang menyajikan photo story dalam lima bingkai yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang kuat. Karya-karya peserta dinilai oleh fotografer profesional, Mamuk Ismuntoro dan Bahana Patria Gupta dari Kompas.
Dalam kompetisi tersebut, Muhammad Alif mengangkat kisah seorang penjual es susu jelly di kawasan Kota Tua Surabaya yang diam-diam tengah berjuang mencari peluang beasiswa untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3). Melalui rangkaian foto dan narasi yang disusunnya, Alif ingin menunjukkan bahwa di balik aktivitas ekonomi masyarakat terdapat cerita perjuangan yang sering luput dari perhatian.
“Lewat karya ini, saya ingin menunjukkan bahwa latar belakang usaha dan perjuangan orang-orang di Kota Tua menyimpan kisah yang luar biasa. Ini menjadi refleksi bahwa di era sekarang, gelar sarjana saja belum tentu cukup menjamin kesempatan kerja tanpa dibarengi kegigihan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri,” ungkap Alif.
Ia menjelaskan bahwa kekuatan utama karya tersebut tidak hanya terletak pada kualitas visual, tetapi juga pada alur cerita yang dibangun melalui narasi. Karena itu, ia lebih banyak memusatkan persiapan pada penyusunan caption dan alur photo story agar pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pembaca maupun dewan juri.
Kompetisi berlangsung dalam satu hari yang padat. Pada 12 Juli 2026, seluruh peserta berkumpul di Departemen DKV ITS sebelum melakukan sesi hunting foto di kawasan Kota Tua Surabaya mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Setelah itu, peserta melakukan proses penyuntingan foto, penyusunan karya, dan persiapan pameran hingga sore hari sebelum memasuki tahap penjurian. Pemenang kemudian diumumkan pada 13 Juli 2026 di UNESA. Saat prosesi penghargaan berlangsung, Alif diwakili oleh Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) Universitas Airlangga karena harus berangkat menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Bagi Alif, mengikuti PEKSIMIDA merupakan kesempatan untuk menyalurkan minat yang telah lama ia tekuni di bidang fotografi. Ia mengaku tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk meraih juara, tetapi ingin memperoleh pengalaman sekaligus menguji kemampuan bercerita melalui karya visual.
“Fotografi sudah menjadi passion saya sejak lama. Saya bersyukur PEKSIMIDA menjadi wadah untuk menyalurkan hobi tersebut secara positif. Saya berharap teman-teman FEB yang memiliki passion di bidang apa pun tetap berani mengembangkannya dan terus berkarya sehingga dapat membanggakan FEB UNAIR maupun Universitas Airlangga, meskipun prestasinya berada di luar bidang akademik,” tuturnya.
Prestasi Muhammad Alif menunjukkan bahwa mahasiswa FEB UNAIR tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan karya yang memiliki kepekaan sosial dan nilai kemanusiaan. Melalui pencapaiannya di PEKSIMIDA Jawa Timur 2026, Alif membuktikan bahwa fotografi dapat menjadi medium yang kuat untuk mengangkat realitas kehidupan sekaligus menginspirasi masyarakat agar terus menghargai perjuangan, semangat belajar, dan pentingnya pendidikan sepanjang hayat.
Prestasi yang diraih Muhammad Alif turut mencerminkan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pesan tentang pentingnya pendidikan sepanjang hayat, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan mengangkat semangat masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan, serta SDG 10 (Reduced Inequalities) dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui karya fotografi yang merekam realitas sosial sekaligus menghadirkan ruang bagi kisah-kisah inspiratif yang sering kali terabaikan. Melalui karya jurnalistik visual tersebut, Muhammad Alif tidak hanya mengharumkan nama FEB UNAIR, tetapi juga menunjukkan bahwa fotografi mampu menjadi medium edukasi yang mendorong empati, kesadaran sosial, dan perubahan positif bagi masyarakat.