

FEB NEWS – Pengalaman belajar tidak hanya diperoleh di ruang kelas. Hal tersebut dirasakan oleh Mohammad Aubin Azka Denira, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 14–19 Juni 2026 di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Bersama tim KKN lintas fakultas, Aubin terjun langsung ke tengah masyarakat untuk memahami dinamika sosial dan ekonomi di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan melalui berbagai program pemberdayaan di bidang pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, dan pengembangan potensi lokal.
Pulau Sebatik dipilih sebagai lokasi KKN karena merupakan salah satu kawasan strategis yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Letak geografis tersebut membentuk karakteristik sosial dan ekonomi masyarakat yang khas, mulai dari aktivitas usaha mikro, mata pencaharian nelayan, hingga akses terhadap pendidikan dan layanan publik. Bersama mahasiswa dari Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Aubin melakukan observasi lapangan, wawancara, dan diskusi bersama masyarakat untuk mengidentifikasi berbagai potensi sekaligus tantangan yang dihadapi warga sebagai dasar penyusunan program pemberdayaan yang relevan dan berkelanjutan.
Sebagai mahasiswa Manajemen FEB UNAIR, Aubin memberikan perhatian pada aspek pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya melalui pendampingan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu kegiatan dilakukan dengan mengunjungi warung milik Misnawati di kawasan Aji Kuning. Dari hasil diskusi, Aubin bersama tim memperoleh pemahaman bahwa usaha mikro tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
“Warung ini bukan cuma tempat orang belanja, tapi juga tempat orang berkumpul dan mengobrol,” ujar Misnawati.
Melalui wawancara dengan pemilik dan karyawan usaha, Aubin mempelajari bagaimana pelaku UMKM mempertahankan usahanya di tengah dinamika ekonomi kawasan perbatasan. Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya mengenai pentingnya strategi pengelolaan usaha yang adaptif sekaligus menunjukkan besarnya potensi ekonomi lokal yang masih dapat dikembangkan melalui inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
Selain mendampingi UMKM, tim KKN juga berdiskusi dengan kelompok nelayan untuk menggali peluang peningkatan nilai tambah hasil laut. Diskusi tersebut membahas potensi diversifikasi produk, penguatan pemasaran, serta pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan. Bagi Aubin, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk memahami bagaimana pendekatan manajerial dapat diterapkan dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi daerah.
Kontribusi tim tidak berhenti pada sektor ekonomi. Di bidang pendidikan, mahasiswa menyelenggarakan kegiatan edukasi di pondok pesantren dengan mengangkat pentingnya pendidikan, literasi, serta pengembangan keterampilan sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi inspirasi sekaligus mendorong para santri untuk terus mengembangkan kapasitas diri dan berani meraih cita-cita.
Selama pelaksanaan KKN, Aubin juga memperoleh banyak pembelajaran mengenai kehidupan masyarakat perbatasan. Salah satunya melalui kisah warga yang memiliki keterkaitan erat dengan Malaysia, namun tetap menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi lokal, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah perbatasan.
Bagi Aubin, KKN menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori manajemen dengan realitas di lapangan. Berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM, kelompok nelayan, tokoh masyarakat, dan para santri memberinya pemahaman bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya membutuhkan strategi pengelolaan usaha yang baik, tetapi juga kolaborasi, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan karakteristik setiap daerah.
Melalui keterlibatannya dalam program KKN ini, Aubin menunjukkan bahwa mahasiswa FEB UNAIR tidak hanya mampu menerapkan ilmu akademik, tetapi juga hadir sebagai agen perubahan yang mendorong pemberdayaan masyarakat secara kolaboratif. Berbagai program yang dijalankan turut memberikan tambahan wawasan kepada masyarakat mengenai pengembangan usaha, pentingnya pendidikan, serta optimalisasi potensi lokal sebagai modal pembangunan yang berkelanjutan.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui edukasi kepada santri, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kapasitas UMKM dan masyarakat pesisir, SDG 10 (Reduced Inequalities) melalui kontribusi dalam pengembangan wilayah perbatasan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif.
Pengalaman di Pulau Sebatik menjadi bukti bahwa proses pembelajaran terbaik lahir ketika ilmu pengetahuan berpadu dengan kepedulian terhadap masyarakat. Bagi Aubin, pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk terus mengembangkan kompetensinya sebagai mahasiswa Manajemen FEB Universitas Airlangga yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat. Semangat inilah yang mencerminkan nilai Excellence with Morality yang terus diimplementasikan oleh sivitas akademika FEB UNAIR dalam mencetak lulusan yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak bagi pembangunan bangsa.