BERITA

GAGAS INOVASI MAREXA, MAHASISWA FEB UNAIR SULAP PERSOALAN PESISIR JADI INOVASI KELAS DUNIA

GAGAS INOVASI MAREXA, MAHASISWA FEB UNAIR SULAP PERSOALAN PESISIR JADI INOVASI KELAS DUNIA

(FEB NEWS) Di tengah riuh kompetisi internasional yang mempertemukan pemuda dari berbagai negara, dua mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga memilih jalan yang tidak biasa yakni membawa isu pesisir ke panggung global.

Nelson Rachel Rafael mahasiswa Akuntansi dan Nailah Salma mahasiswa Ilmu Ekonomi itulah yang pada 10 April 2026, sukses memenangkan 1st Place dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) yang diselenggarakan di Singapura dan Malaysia baru-baru ini.

International Youth Innovation Summit menjadi titik temu antar lintas negara Singapura dan Malaysia. Mengusung tema Youth Innovation Digital, Nelson dan Nailah menggagas “MarExa”, yakni sebuah platform digital yang dirancang untuk mendorong pelaku UMKM dan pengrajin lokal di wilayah pesisir pantai agar mampu bersaing di pasar global.

MacroSix, mengembangkan MarExa (Maritime Export Accelerator) sebuah platform digital yang ditujukan untuk pelaku UMKM dan pengrajin di wilayah pesisir, dengan fokus awal di Pantai Kenjeran, Surabaya.

Masalahnya klasik, akses pasar terbatas, kualitas produk belum seragam, hingga pengelolaan keuangan yang masih sporadis. MarExa mencoba merapikan itu dalam satu ekosistem.

Platform ini dibangun dengan empat fitur utama:
● Master Class, berisi materi dari praktisi untuk meningkatkan standar produk
● Retail Partner, membuka akses bahan baku dan kemasan yang lebih kompetitif
● Global Logistic, menghubungkan produk ke pasar internasional melalui integrasi e-commerce dan distribusi
● Revenue Tracker, dashboard keuangan real-time untuk menjaga transparansi usaha

Sehingga, novasi mereka tidak berhenti pada digitalisasi melainkan menanamkan literasi ekonomi dan praktik usaha yang seringkali timpang di lapangan.

MarExa tidak lahir dalam waktu panjang. Hanya lima minggu dimulai dari penyusunan Business Model Canvas, pengembangan materi visual, hingga simulasi presentasi.

Koordinasi tim dilakukan rutin setiap pekan. Diskusi berlangsung lintas disiplin, memaksa setiap anggota menyederhanakan ide tanpa kehilangan substansi. Mereka juga mendapat umpan balik dari mentor profesional IYIS yang menurut Nelson, krusial untuk menguji apakah gagasan mereka cukup “berbicara” di forum global.

Tantangan muncul saat sesi tanya jawab. Bahasa menjadi batas yang sempat mengganggu alur komunikasi. Namun disitulah latihan mereka diuji, terutama dalam meramu story telling yang ringkas dan tetap tajam.

“Kami fokus pada bagaimana pesan utama tetap sampai, bukan sekadar menjawab pertanyaan,” kata Nelson.

Pendekatan itu berbuah hasil. Selain kemenangan tim, Nelson juga dinobatkan sebagai The Most Innovative Delegate.

Inovasi ini selaras dengan upaya mendorong pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, sekaligus memperkuat ekosistem industri berbasis inovasi. Tapi yang lebih penting, ia menunjukkan bahwa solusi tidak selalu datang dari proyek besar, kadang justru dari keberanian melihat masalah kecil secara serius.

Editor: Sintya Alfafa