

(FEB NEWS) Kemampuan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) dalam menyusun riset investasi kembali membuahkan prestasi di tingkat nasional. Tim IBTC (ImBoutToChamp) berhasil meraih Juara 3 pada National Investment Research Competition (NIRC) 2026, sebuah kompetisi equity research tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan mengusung tema Strategic Insight, Market Foresight: Navigating Investment Opportunities Through Comprehensive Equity Research.
Prestasi tersebut diraih melalui riset komprehensif terhadap PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang mengangkat narasi utama “Energizing Green Future”. Dalam paper yang disusun, Tim IBTC memberikan rekomendasi BUY terhadap saham PGEO dengan target harga Rp1.684 per saham, atau memiliki potensi kenaikan (potential upside) sebesar 99,24 persen dibandingkan harga acuan saat riset sebesar Rp845 per saham. Tesis investasi tersebut dibangun berdasarkan tiga pilar utama, yaitu defensive tollbooth revenue, capacity build-out, serta optionality PGEO sebagai platform energi hijau jangka panjang.
Tim IBTC Universitas Airlangga terdiri atas Fauzan Hammam Kusuma (S1 Manajemen 2025), Athollah Khansa Pradata (S1 Akuntansi 2025), dan Maya Nafiiza Lestari (S1 Manajemen 2025). Selama proses penyusunan riset, ketiga anggota tim berkolaborasi mulai dari pemilihan emiten, pengumpulan data, analisis makroekonomi dan industri, pemetaan posisi kompetitif perusahaan, valuasi, penyusunan investment risk assessment, hingga penyusunan materi presentasi dan sesi tanya jawab. Secara khusus, Athollah berperan dalam memperkuat research narrative melalui analisis tren makroekonomi, struktur industri, competitive positioning, Porter’s Five Forces, serta analisis risiko investasi.
Kompetisi berlangsung sejak 27 Mei hingga 29 Juni 2026 melalui serangkaian tahapan yang meliputi penyusunan equity research paper, proses penilaian, penyusunan final presentation deck, presentasi di hadapan dewan juri, hingga awarding. Penghargaan Juara 3 Tingkat Nasional diterima Tim IBTC pada 29 Juni 2026, bertepatan dengan penutupan rangkaian kompetisi.
Dalam menyusun riset investasi tersebut, tim memulai analisis dengan memahami karakter bisnis PGEO sebagai perusahaan panas bumi yang memiliki model bisnis defensif melalui kontrak jangka panjang dengan PLN. Selanjutnya, tim menganalisis kondisi makroekonomi, kebutuhan energi nasional, arah kebijakan RUPTL, potensi pengembangan energi panas bumi di Indonesia, hingga prospek ekspansi kapasitas pembangkit geothermal sebagai dasar menilai pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
Analisis kemudian diperdalam menggunakan kerangka Porter’s Five Forces untuk memetakan struktur industri panas bumi di Indonesia. Tim menilai bahwa industri tersebut memiliki hambatan masuk yang tinggi karena membutuhkan investasi besar, risiko eksplorasi yang tinggi, serta proses perizinan yang panjang. Di sisi lain, dominasi PLN sebagai pembeli utama listrik juga menjadi faktor penting dalam membaca posisi kompetitif PGEO sebagai salah satu pemain utama sektor energi panas bumi nasional.
Untuk memperoleh valuasi yang komprehensif, Tim IBTC menerapkan pendekatan blended valuation dengan mengombinasikan metode Discounted Cash Flow-Free Cash Flow to Firm (DCF-FCFF), EV/EBITDA, dan EV/MW. Pendekatan tersebut menghasilkan target harga Rp1.684 per saham. Namun demikian, rekomendasi investasi tidak hanya didasarkan pada potensi kenaikan harga saham, melainkan juga mempertimbangkan berbagai risiko seperti keterlambatan proyek (Commercial Operation Date), risiko reservoir panas bumi, ketidakpastian pengeboran, perubahan tarif listrik PLN, kebutuhan pendanaan, risiko interkoneksi, perizinan wilayah kerja panas bumi, kondisi makroekonomi, hingga persepsi valuasi dibandingkan perusahaan energi lainnya.
Menurut Athollah Khansa Pradata, motivasi utama mengikuti kompetisi ini adalah menguji kualitas riset investasi pada sektor energi terbarukan yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi sekaligus berperan strategis bagi Indonesia. Melalui kompetisi tersebut, tim ingin membuktikan bahwa mahasiswa FEB UNAIR mampu melakukan analisis emiten tidak hanya berdasarkan laporan keuangan, tetapi juga melalui pemahaman terhadap kondisi makroekonomi, dinamika industri, kebijakan pemerintah, hingga risiko jangka panjang.
Athollah mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penyusunan paper adalah menjaga keseimbangan antara narasi pertumbuhan perusahaan dengan karakter bisnis defensif PGEO. Menurutnya, potensi ekspansi kapasitas dan peluang pengembangan energi hijau harus disampaikan berdasarkan data, kontrak, pipeline project, serta risiko implementasi yang realistis, sehingga rekomendasi investasi tetap dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun profesional.
“Bagi kami, NIRC menjadi titik penting dalam perjalanan belajar equity research. Melalui PGEO, kami belajar bahwa riset investasi tidak hanya tentang menentukan target harga, tetapi tentang memahami bagaimana tren makro, struktur industri, posisi kompetitif, valuasi, dan risiko saling membentuk satu tesis investasi yang utuh,” ujar Athollah.
Melalui capaian tersebut, Tim IBTC berharap dapat terus meningkatkan kualitas riset investasi, memperkuat kemampuan presentasi, serta berkontribusi dalam membangun budaya analisis investasi yang semakin kuat di lingkungan mahasiswa FEB Universitas Airlangga. Motto yang mereka pegang, “Turning green transition complexity into clear, defensible investment conviction”, mencerminkan komitmen tim dalam menghadirkan rekomendasi investasi yang berbasis data, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prestasi ini sekaligus menunjukkan komitmen FEB UNAIR dalam mencetak lulusan yang memiliki kemampuan analitis, berpikir kritis, serta mampu memberikan solusi berbasis riset terhadap berbagai isu strategis di bidang ekonomi dan investasi. Kajian mengenai energi panas bumi yang dilakukan Tim IBTC juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui penguatan pemanfaatan energi terbarukan, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan riset dan inovasi, SDG 13 (Climate Action) melalui dukungan terhadap transisi energi bersih, serta SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan budaya riset di lingkungan perguruan tinggi.