BERITA

NAHKODAI ARAH PENDIDIKAN BISNIS DI TENGAH GEJOLAK, FEB UNAIR GELAR CEO TALK 2026

NAHKODAI ARAH PENDIDIKAN BISNIS DI TENGAH GEJOLAK, FEB UNAIR GELAR CEO TALK 2026

(FEB NEWS) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) menggelar forum dialog strategis bertajuk CEO Talk 2026: “Shaping the Future of Business Education”, sebagai rangkaian dari acara Dies Natalis FEB UNAIR ke-65 pada Sabtu, (22/08/2026), di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat.

Forum ini mempertemukan jajaran pimpinan FEB UNAIR (Dekan FEB UNAIR – Prof. Dr. Rudi Purwono didampingi jajaran wakil dekan) dengan Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia, Neneng Goenadi, sebagai narasumber utama, serta para alumni FEB UNAIR yang tergabung dalam Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE), termasuk Ignasius Jonan dan Theo Lekatompessy. Turut hadir lebih dari 50 pemimpin dan pengambil kebijakan dari berbagai sektor mulai dari otoritas moneter dan perbankan, regulator dan lembaga negara (Bursa Efek Indonesia, Badan Pemeriksa Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian), BUMN dan korporasi swasta (PT KAI Logistik, PT Pegadaian, PT PELNI, PT Dok dan Perkapalan Surabaya, Kalbe Farma, OVO, Astra, Telkomsel), hingga media nasional seperti Kompas dan CNN Indonesia.

Berbeda dari forum akademik pada umumnya, CEO Talk 2026 sengaja dirancang sebagai forum terbatas dan berbasis undangan (by invitation only). Para CEO dan pemimpin dunia usaha yang hadir tidak diposisikan sebagai penonton, melainkan mitra diskusi, yang pandangannya akan menjadi masukan langsung bagi arah pengembangan pendidikan, riset, dan kolaborasi industri FEB UNAIR ke depan, termasuk untuk penyusunan Rencana Strategis (Renstra) FEB UNAIR periode 2027–2031.

Rangkaian acara dimulai dengan networking luncheon, sambutan Dekan FEB UNAIR – Prof. Dr. Rudi Purwono dan lanjut dengan Sambutan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya – Prof. Dr. Ardianto, S.E., M.Si., Ak., CMA., CA., sebelum memasuki dua sesi inti yaitu pemaparan dari narasumber utama, dilanjutkan dialog interaktif antar-CEO yang berlangsung hingga sore hari.

Bukan Krisis, tapi Kebiasaan Baru

Sesi pertama diisi oleh Neneng Goenadi – Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia, yang membawakan pemaparan bertajuk “Steering The Ship Through the Storm: Lesson Learned”. Salah satu pesan utama yang mengemuka dari sesi ini adalah bahwa transformasi bukan lagi sekadar respons terhadap krisis, melainkan telah menjadi bagian dari business as usual.

Neneng menekankan pentingnya kepemimpinan dalam mendorong transformasi organisasi. Menurutnya, transformasi membutuhkan clarity, courage, critical mindset, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Dunia bisnis, lanjutnya, juga dituntut untuk terus melakukan continuous improvement agar mampu bertahan dan tetap relevan di tengah perubahan yang datang bertubi-tubi.

Ragam Perspektif, Satu Arah

Sesi kedua membuka ruang diskusi bertajuk “Shaping the Future of Business Education”, menghadirkan perspektif akademisi, pelaku industri, regulator, dan pemangku kepentingan mengenai arah pendidikan bisnis di tengah perubahan yang semakin cepat.

Muhammad Koba mengingatkan pentingnya memahami tidak hanya competitive advantage, tetapi juga strategic vulnerability. Menurutnya, organisasi perlu mampu mengenali berbagai potensi kerentanan, termasuk risiko dari aspek mikro, serta melakukan diversifikasi produk dan mitra untuk memperkuat ketahanan bisnis.

Perspektif kebijakan datang dari Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, yang menyoroti pentingnya transformasi institusi dan digitalisasi agar kebijakan publik tetap relevan dan mampu memberikan dampak nyata terhadap sektor riil. Ia mendorong perguruan tinggi untuk memperbanyak case study dan memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Sementara itu, Ignasius Jonan menyoroti pentingnya keterhubungan antara pendidikan dan dunia industri. Ia menekankan perlunya keterlibatan praktisi dalam proses pendidikan, khususnya pada jenjang pascasarjana, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga perspektif dan pengalaman praktis dari lapangan.

Kembali ke konteks FEB UNAIR, Neneng menegaskan bahwa agar pendidikan tetap relevan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kurikulum perlu ditransformasi secara berkelanjutan. Penguatan soft skills, case-based learning, serta keterlibatan industri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja.

Hal senada disampaikan Dian, Direktur OVO, yang menyoroti perkembangan artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI akan semakin meningkatkan efisiensi, namun pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Dosen, kata dia, perlu memperbarui case studies dan mengembangkan kemampuan analitis mahasiswa, bukan hanya berfokus pada aspek kognitif semata.

Dari sisi kebijakan ekonomi syariah, Sutan Emir Hidayat dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menekankan bahwa communication skill merupakan salah satu kompetensi paling penting bagi generasi masa depan. Kemampuan mahasiswa dalam mengekspresikan ide, membangun argumentasi, dan berkomunikasi secara efektif perlu terus diasah dalam proses pendidikan.

Dari sisi industri, Wilton Molumbo, Direktur PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), mengingatkan pentingnya fokus pada penguatan internal organisasi. Menurutnya, organisasi tidak seharusnya terlalu berorientasi pada kompetitor, melainkan terlebih dahulu memastikan bahwa fondasi dan kapabilitas internal telah kuat.

Dalam sesi pembahasan Research and Societal Impact, Ahmad Hidayat menyoroti adanya demand yang kuat terhadap riset-riset berkualitas, khususnya untuk kebutuhan due diligence kelayakan investasi di dunia industri. Kemudian dari sisi Policy & Societal Impact, ketua IKAFE, Rizky, menggaris bawahi sejumlah isu entrepreneurship dalam pembelajaran dan penguatan program Alumni Mengajar melalui keterlibatan alumni untuk berbagi wawasan dan pengalaman dunia profesional di ruang kelas melalui program “Alumni Mengajar”.

Dari Knowledge-Based Menuju Future-Ready Education

Berbagai perspektif yang mengemuka sepanjang forum bermuara pada satu kesimpulan yaitu pendidikan bisnis harus terus bergerak dari knowledge-based education menuju future-ready education.

“From knowledge to impact, from stability to transformation, and from job-ready to future-ready leadership.”

Pesan penutup tersebut menjadi refleksi sekaligus komitmen bersama untuk membangun pendidikan bisnis yang tidak hanya relevan menghadapi tantangan hari ini, tetapi juga mampu membentuk pemimpin dan profesional yang siap menciptakan masa depan.

Melalui CEO Talk 2026, FEB UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan dunia usaha, pemerintah, regulator, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan. Masukan yang dihimpun dari forum ini diharapkan menjadi bagian penting dalam merancang pendidikan, riset, dan kolaborasi industri yang semakin relevan serta mampu melahirkan pemimpin dan profesional yang siap menghadapi sekaligus menciptakan masa depan.