

(FEB NEWS) Surabaya, 12 Agustus 2026 — Ketidakpastian telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari dunia bisnis. Perubahan teknologi bergerak cepat, perilaku konsumen terus bergeser, sementara dinamika ekonomi dan persaingan membuat perusahaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan cara-cara lama. Di tengah lingkungan semacam itu, kemampuan membaca perubahan dan terus menciptakan nilai menjadi bekal penting bagi seorang manajer.
Pesan itulah yang disampaikan Prof. Md Daud Ismail dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ketika berkunjung ke Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rabu, 12 Agustus 2026. Expert yang memiliki keahlian di bidang knowledge management dan inovasi tersebut berbagi perspektif dengan mahasiswa melalui kuliah tamu dengan topik “Introduction to Business in a Turbulent Environment.”
Kedatangan Prof. Md Daud disambut Ketua Departemen Manajemen FEB UNAIR Dr. Yetty Dwi Lestari bersama Sekretaris Departemen Zahrin Haznina Qalby. Sebanyak 55 mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Manajemen dan Akuntansi mengikuti kuliah tamu yang menjadi bagian dari mata kuliah Pengantar Bisnis tersebut.
Ketika Perubahan Menjadi Kenormalan Baru
Di hadapan mahasiswa, Prof. Md Daud mengajak peserta melihat bahwa bisnis tidak lagi dianggap sebagai aktivitas untuk menghasilkan dan menjual produk. Ketidakpastian dan dinamika lingkungan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menjalankan aktivitas bisnis. Oleh karena itu, keputusan seorang manajer akan selalu bersinggungan dengan perubahan pasar, teknologi, kompetisi, kondisi ekonomi, hingga berbagai faktor eksternal yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan perusahaan.
Dalam situasi yang penuh turbulensi, kemampuan manajerial justru semakin dibutuhkan. Seorang manajer harus memiliki pengetahuan untuk membaca lingkungan, mengenali perubahan, dan memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberlanjutan bisnis.
Pengetahuan tersebut menjadi penting karena pada akhirnya pengelolaan bisnis bermuara pada satu tujuan: menciptakan nilai (value creation). Perusahaan yang mampu bertahan disebabkan karena mereka mampu memahami perubahan dan mengubah pengetahuan menjadi nilai bagi pelanggan maupun organisasi.
Learning, Networking, Innovation
Ada tiga kata yang mendapat perhatian dalam perkuliahan tersebut: learning, networking, dan innovation.
Learning menjadi fondasi karena organisasi dan individu perlu terus memperbarui pengetahuannya. Apa yang berhasil hari ini belum tentu memberikan hasil yang sama ketika lingkungan berubah. Kemampuan belajar membuat seorang manajer tidak terjebak pada pengalaman masa lalu ketika menghadapi persoalan baru.
Namun pengetahuan tidak selalu lahir dari dalam organisasi. Karena itu, Prof. Md Daud juga menekankan pentingnya networking. Jejaring membuka akses terhadap perspektif, pengalaman, peluang, dan pengetahuan baru yang tidak selalu tersedia di dalam perusahaan.
Proses belajar dan perluasan jejaring tersebut kemudian perlu diterjemahkan menjadi innovation. Di titik inilah pengetahuan tidak berhenti sebagai sesuatu yang diketahui, tetapi berkembang menjadi gagasan, proses, produk, ataupun model bisnis baru yang menciptakan nilai.
Ketiganya saling terhubung. Organisasi belajar untuk memperoleh pengetahuan, membangun jejaring untuk memperluas sumber pengetahuan, kemudian mengolahnya menjadi inovasi yang relevan dengan perubahan lingkungan bisnis.
Di satu sisi, perusahaan perlu mengeksploitasi apa yang telah dimiliki, seperti memperbaiki produk, meningkatkan efisiensi, menyempurnakan proses, dan mengoptimalkan kompetensi yang sudah ada. Namun pada saat yang sama, perusahaan juga harus berani mengeksplorasi sesuatu yang baru seperti halnya mengadopsi teknologi baru, pasar baru, pengetahuan baru, maupun model bisnis yang mungkin belum pernah dicoba sebelumnya.
Tantangannya terletak pada keseimbangan. Terlalu nyaman mengeksploitasi keberhasilan lama dapat membuat perusahaan kehilangan momentum ketika lingkungan berubah. Sebaliknya, terus mengejar sesuatu yang baru tanpa mengoptimalkan kemampuan yang sudah dimiliki dapat membuat organisasi kehilangan fokus.
Kemampuan menjalankan keduanya menjadi semakin relevan ketika perusahaan beroperasi dalam lingkungan yang turbulen. Bertahan membutuhkan efisiensi, tetapi bertumbuh membutuhkan keberanian untuk bereksperimen.
Kuliah tamu ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Departemen Manajemen FEB UNAIR untuk memperkuat atmosfer pembelajaran internasional dengan menghadirkan akademisi dari berbagai negara dan bidang keahlian.