BERITA

BINS GOES TO CAMPUS DI FEB UNAIR PERKUAT EKOSISTEM RISET DAN PUBLIKASI ILMIAH

BINS GOES TO CAMPUS DI FEB UNAIR PERKUAT EKOSISTEM RISET DAN PUBLIKASI ILMIAH

(FEB NEWS) SURABAYA, 14 Agustus 2026 – Penguatan ekosistem riset nasional tidak hanya membutuhkan peningkatan kualitas penelitian, tetapi juga kemampuan menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas serta membangun ruang dialog antara akademisi dan pembuat kebijakan. Semangat tersebut hadir dalam Bank Indonesia Institute Goes to Campus (BGTC) yang diselenggarakan di Aula Fadjar Notonegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Jumat (14/8/2026).

Kegiatan yang mempertemukan Bank Indonesia Institute dengan civitas academica UNAIR dan perguruan tinggi lainnya yang ada di Surabaya dan sekitarnya tersebut menghadirkan rangkaian Lecture Session, Diseminasi Riset, serta Diseminasi Paper Jurnal Bank Indonesia. Program BGTC sendiri merupakan inisiatif Bank Indonesia Institute sebagai wadah berbagi pengetahuan dan wawasan mengenai isu strategis di bidang ekonomi, moneter, dan keuangan, sekaligus mendorong pengembangan pengetahuan dan publikasi akademik.

Kegiatan diawali dengan Welcoming Remarks dari Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE., Dekan FEB UNAIR, dan Opening Speech dari Dr. Cicilia A. Harun, Direktur Bank Indonesia Institute. Dalam sambutannya, Dr. Cicilia A. Harun menegaskan bahwa BGTC merupakan salah satu upaya Bank Indonesia Institute untuk terus berkontribusi dalam memperkuat ekosistem riset nasional. Melalui kegiatan tersebut, Bank Indonesia Institute berupaya mendekatkan hasil riset, pengetahuan, dan komunikasi ilmiah kepada civitas academica sekaligus membuka ruang diskusi dan pertukaran gagasan dengan komunitas akademik.

Sejak 2023, BGTC telah diselenggarakan di berbagai perguruan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia dengan rangkaian kegiatan yang mencakup lecture session, seminar atau diseminasi riset, serta promosi jurnal ilmiah Bank Indonesia. Dalam sambutannya, Dr. Cicilia juga berharap interaksi antara pembuat kebijakan dan komunitas akademik dapat terus diperkuat sehingga menghasilkan riset yang tidak hanya memiliki kualitas akademik, tetapi juga mampu menjawab berbagai tantangan perekonomian Indonesia.

Mendorong Riset yang Kuat hingga Publikasi Internasional

Sesi pertama menghadirkan Prof. Paresh K. Narayan, Professor pada Monash Business School, Monash University sekaligus Founder & President Asia-Pacific Applied Economics Association (APAEA), dalam Lecture Session bertajuk “How to Write and Publish Scientific Article to International Journal”. Sesi tersebut dipandu Dr. Nurkholisoh Ibnu Aman dari Bank Indonesia Institute.

Dalam pemaparannya, Prof. Paresh menekankan bahwa penelitian yang berpeluang masuk ke jurnal berkualitas harus dibangun dari pertanyaan penelitian yang jelas, alasan mengapa pertanyaan tersebut penting, landasan teori, pendekatan metodologis, serta kontribusi yang membedakannya dari penelitian sebelumnya. Peneliti juga perlu mampu mengidentifikasi research gap dan menunjukkan bagaimana penelitian yang dilakukan dapat mengisi kesenjangan tersebut.

Selain itu, Prof. Paresh memberikan perhatian pada struktur penulisan artikel, mulai dari abstract, introduction, literature review, pengembangan hipotesis, metodologi, hingga kontribusi penelitian. Ia juga menekankan pentingnya membaca dan menulis secara konsisten untuk meningkatkan kemampuan akademik. Pada bagian hasil penelitian, peneliti tidak cukup hanya menyajikan angka atau tabel, tetapi harus mampu menjelaskan makna hasil, keterkaitannya dengan teori dan literatur, serta alasan ketika temuan berbeda dari penelitian terdahulu.

Human Capital, Teknologi, dan Produktivitas Jadi Kunci Keluar dari Middle Income Trap

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan Diseminasi Riset Bank Indonesia oleh Dr. Danny Hermawan dari Bank Indonesia Institute dengan topik “Strategi Mengatasi Risiko Middle Income Trap: Human Capital, Technology dan Productivity – Lesson Learned dari Korea, Tiongkok, Vietnam dan Thailand”. Sesi ini kembali dimoderatori oleh Dr. Nurkholisoh Ibnu Aman.

Riset tersebut membahas posisi Indonesia sebagai negara upper-middle-income dan tantangan untuk keluar dari middle-income trap, yaitu kondisi ketika negara tidak lagi mampu bersaing dengan negara berpendapatan rendah dari sisi biaya tenaga kerja, tetapi belum cukup produktif dan inovatif untuk bersaing dengan negara berpendapatan tinggi. Materi riset membandingkan pengalaman Korea Selatan, Tiongkok, Vietnam, dan Thailand dalam membangun human capital, inovasi, produktivitas, serta transformasi ekonomi.

Hasil estimasi yang dipaparkan menunjukkan adanya hubungan positif antara human capital dan GDP per kapita, sementara produktivitas menjadi salah satu faktor dengan pengaruh terbesar dalam model. Riset juga menyoroti persoalan fragmentasi pembentukan talenta, keterbatasan basis riset, rendahnya keterlibatan industri, serta “valley of death” ketika hasil riset dan prototipe belum mampu berlanjut menuju tahap komersialisasi.

Dalam konteks tersebut, rekomendasi yang ditawarkan antara lain penyelarasan jalur pendidikan dan kebutuhan industri, reformasi pendanaan R&D, penguatan hubungan perguruan tinggi dan industri, serta penguatan mekanisme komersialisasi intellectual property.

Green Banking dan Tantangan Financial Trade-Off
Sesi ketiga menghadirkan Nafis Dwi Kartiko dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia sebagai pembicara dalam Diseminasi Paper Jurnal Bank Indonesia bertajuk “Green Banking Disclosure and Financial Trade-Offs: Evidence from Indonesia’s Banking Sector”. Sesi tersebut dimoderatori Ida Wijayanti, S.EI., M.SEI. dari Universitas Airlangga, dengan Prof. Dr. Imron Mawardi, S.P., M.Si. dari Universitas Airlangga sebagai discussant.

Paper yang dipaparkan mengkaji pengaruh green banking disclosure terhadap kinerja keuangan dan nilai perusahaan perbankan di Indonesia. Penelitian menggunakan data perusahaan perbankan periode 2004–2021 dengan total 578 sampel, berdasarkan laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan laporan keuangan.

Salah satu temuan penting penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan green banking tidak selalu memberikan dampak finansial positif dalam jangka pendek. Implementasi dan pengungkapan praktik keberlanjutan dapat menimbulkan biaya tambahan, sehingga dalam kondisi tertentu berdampak pada kinerja dan nilai perusahaan. Penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan hubungan tersebut berdasarkan karakteristik perusahaan, termasuk ukuran dan usia perusahaan serta konteks perusahaan milik negara dan swasta.

Temuan tersebut kemudian mendapat telaah dari Prof. Dr. Imron Mawardi. Diskusi tidak hanya membahas hasil penelitian, tetapi juga menyoroti aspek konseptual dan metodologis, termasuk pengukuran Green Banking Disclosure Index, karakteristik sampel, serta kemungkinan penggunaan perspektif teori lain untuk memperkuat penjelasan mengenai hubungan green banking dan nilai perusahaan.

Melalui tiga sesi tersebut, BGTC di FEB UNAIR mempertemukan penguatan kapasitas publikasi ilmiah, diseminasi hasil riset, serta pengujian gagasan melalui diskusi akademik. Kehadiran forum ini sekaligus membuka ruang bagi civitas academica untuk memperluas wawasan penelitian dan memahami keterkaitan antara riset, kebijakan, serta tantangan perekonomian Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan harapan Bank Indonesia Institute agar interaksi antara pembuat kebijakan dan komunitas akademik terus diperkuat untuk melahirkan karya ilmiah yang berkualitas sekaligus relevan bagi kebutuhan Indonesia.