BERITA

10TH IBEMS 2026: FEB UNAIR JADI TUAN RUMAH DISKUSI GLOBAL TENTANG BISNIS, EKONOMI, MANAJEMEN, DAN SOCIETY DI ERA DIGITAL

10TH IBEMS 2026: FEB UNAIR JADI TUAN RUMAH DISKUSI GLOBAL TENTANG BISNIS, EKONOMI, MANAJEMEN, DAN SOCIETY DI ERA DIGITAL

(FEB NEWS) SURABAYA, 9 September 2026 — Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) bersama Research Synergy Foundation (RSF) dan University of Economics Ho Chi Minh City (UEH), Vietnam, sukses menyelenggarakan 10th International Conference on Interdisciplinary Business, Economy, Management, and Social Studies (10th IBEMS) pada Rabu (9/9/2026). Digelar secara hybrid di FEB UNAIR dan melalui Zoom, konferensi bertema “Building Shared Futures: Bridging Business, Economy, Management & Society” ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari lebih dari 22 negara.

Mengawali konferensi, Dr. Yetty Dwi Lestari, S.E., M.T., Ketua Departemen Manajemen FEB UNAIR sekaligus Conference Chair 10th IBEMS, menyampaikan selamat datang dan apresiasi kepada seluruh pembicara, peneliti, mahasiswa, akademisi, serta peserta yang hadir.

Dalam sambutannya, Dr. Yetty menekankan bahwa kompleksitas persoalan bisnis, ekonomi, manajemen, dan sosial saat ini tidak dapat lagi diselesaikan dalam sekat-sekat disiplin ilmu. Menurutnya, diperlukan kolaborasi dan pendekatan interdisipliner dengan mempertemukan berbagai perspektif untuk menghasilkan solusi serta kemajuan yang berkualitas.

Ia juga menilai konferensi menjadi ruang penting untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan gagasan terkait berbagai isu aktual, termasuk keberlanjutan, ESG, serta perkembangan bisnis, ekonomi, dan sosial. Pelaksanaan secara hybrid turut memperluas akses dan mencerminkan perkembangan akademik yang semakin inklusif dengan memungkinkan keterlibatan peserta dari berbagai wilayah.

“Konferensi ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga mendorong kolaborasi dan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat,” demikian pesan utama Dr. Yetty.

Sementara itu, Novrys Suhardianto, S.E., MSA., Ak., Ph.D., Wakil Dekan III FEB UNAIR, yang hadir mewakili Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE., menyoroti penyelenggaraan 10th IBEMS dalam perspektif yang lebih strategis. Ia menegaskan bahwa perspektif global merupakan salah satu elemen penting dalam arah pengembangan FEB UNAIR, khususnya dalam memperkuat global engagement dan international impact.

Menurut Novrys, FEB UNAIR terus mendorong keterlibatan dan dampak internasional melalui berbagai kegiatan akademik serta konferensi internasional yang diselenggarakan oleh departemen dan program studi sepanjang tahun. Namun, penyelenggaraan konferensi berskala internasional membutuhkan sumber daya yang besar sehingga kolaborasi dengan mitra internasional menjadi strategi penting untuk memastikan kegiatan akademik global dapat terus berkembang.

Salah satu bentuk konkret kolaborasi tersebut adalah keterlibatan University of Economics Ho Chi Minh City (UEH), Vietnam, yang merupakan implementasi dari MoU antara FEB UNAIR dan UEH yang ditandatangani pada Juli 2026. Novrys juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Tongmyong University, Republik Korea, serta berbagai mitra lainnya.

Lebih jauh, Novrys berharap konferensi internasional ke depan tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menghadirkan industrial session yang dapat menghubungkan temuan riset dengan kebutuhan dan persoalan nyata di dunia industri.

Dengan demikian, hubungan antara akademisi dan industri dapat semakin kuat. Industri dapat memperoleh manfaat dari hasil penelitian, sementara akademisi mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha sehingga riset dapat turut berkontribusi dalam memberikan solusi.

Pesan tersebut sekaligus memperkuat tujuan konferensi yang disampaikan Dr. Yetty, bahwa kolaborasi akademik perlu diarahkan pada dampak yang lebih luas, tidak hanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga masyarakat dan dunia industri.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Hendrati Dwi Mulyaningsih, Founder dan CEO Research Synergy Foundation sekaligus Co-Conference Chair 10th IBEMS. Ia menjelaskan bahwa IBEMS telah konsisten diselenggarakan selama 10 tahun sebagai forum interdisipliner yang mempertemukan riset dari berbagai bidang, mulai dari Business Economics, Management, Social Studies, Psychology, Circular Economy, Human Resource Development, Organization Development, Tourism and Hospitality, Islamic Studies, Sustainability Studies, Entrepreneurship, Education, Risk Management, Law, Humanities, Halal Studies, hingga Behavioural Studies.

Sebagai mitra penyelenggara, RSF merupakan platform sosial digital yang membangun ekosistem riset global dengan jaringan lebih dari 45.000 anggota dari 87 negara serta rekam jejak menyelenggarakan lebih dari 244 konferensi internasional sejak 2017. Kolaborasi bersama FEB UNAIR turut memperluas akses terhadap jejaring peneliti global sekaligus membuka peluang publikasi internasional bagi sivitas akademika.

Memperkuat perspektif internasional, 10th IBEMS menghadirkan empat keynote speaker dari berbagai negara. Sesi tersebut dimoderatori oleh Santi Rahmawati, S.T., M.S.M., Founder & Chief of Operating Officer (COO) Research Synergy Foundation.

Keynote speaker pertama, Prof. Ari Warokka, Ph.D. dari Busan International College, Tongmyong University, Korea Selatan, membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam meningkatkan efisiensi organisasi, termasuk dalam proses pengambilan keputusan. Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI yang pesat turut mengubah cara kerja manajemen dan memperluas kapasitas manajerial dalam pengambilan keputusan strategis.

Keynote speaker kedua, Dr. Truong Nu To Giang dari School of Management, University of Economics Ho Chi Minh City (UEH), Vietnam, mengangkat peran kepemimpinan digital dalam memberikan arah dan visi, memobilisasi serta memberdayakan sumber daya manusia, hingga mengubah teknologi menjadi dampak nyata bagi organisasi.

Menurutnya, pengaruh kepemimpinan digital terhadap performa karyawan tidak berlangsung secara langsung, melainkan melalui literasi digital dan budaya kerja yang pada akhirnya mendukung efektivitas kerja.

Sementara itu, keynote speaker ketiga, Assoc. Prof. Dr. Lau Teck Chai dari XJTLU Entrepreneur College, Xi’an Jiaotong-Liverpool University, China, membahas perkembangan pengetahuan di era AI yang semakin beragam sekaligus membuka ruang baru bagi pengembangan riset interdisipliner.

Keynote speaker keempat, Prof. Lennora Putit, turut memperkaya perspektif global dalam konferensi melalui pemaparan yang menambah keberagaman perspektif akademik dalam membahas tantangan dan peluang di era digital. Kehadiran Prof. Lennora Putit melengkapi rangkaian keynote session yang menghadirkan akademisi dari berbagai negara dan memperkuat semangat interdisipliner yang menjadi karakter utama 10th IBEMS.

Selain konferensi utama, rangkaian 10th IBEMS juga menghadirkan workshop dari ENAGO bertajuk “Utilising Trinka AI for the Research Desk”. Workshop tersebut memberikan wawasan kepada peneliti mengenai pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung proses penulisan dan publikasi ilmiah.

Konferensi juga diisi dengan berbagai sesi presentasi hasil riset dari peneliti dan akademisi lintas negara yang memaparkan temuan terbaru dalam beragam bidang kajian interdisipliner.

Pada sesi penutupan, Dr. Yetty kembali menegaskan bahwa tema “Building Shared Futures” menjadi pengingat bahwa ketahanan global membutuhkan inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas disiplin. Ia berharap berbagai gagasan yang dipertukarkan selama konferensi dapat menginspirasi kajian lanjutan, memperkuat jejaring profesional, serta mendorong kolaborasi masa depan antara peneliti, institusi, praktisi, dan komunitas lintas negara.

Keberhasilan penyelenggaraan 10th IBEMS semakin memperkuat peran FEB UNAIR sebagai simpul kolaborasi riset global. Lebih dari sekadar forum akademik, konferensi ini menjadi bagian dari upaya memperluas global engagement dan international impact FEB UNAIR sekaligus mendorong agar hasil riset dapat terhubung dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri.

Melalui penguatan jejaring internasional dan pendekatan interdisipliner, FEB UNAIR terus membuka ruang bagi sivitas akademika untuk berkontribusi dalam percakapan ilmiah global serta menghasilkan penelitian yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi dunia industri dan masyarakat.