BERITA

CEGAH EKSPLOITASI MENTAL MAHASISWA, BEM FEB UNAIR GELAR SEMINAR PSIKOLOGI

CEGAH EKSPLOITASI MENTAL MAHASISWA, BEM FEB UNAIR GELAR SEMINAR PSIKOLOGI

(BEM NEWS) Fenomena burnout menjadi buntut dari padatnya aktivitas mahasiswa yang dituntut selalu aktif, baik mengejar IPK sempurna, memenangkan lomba, maupun mengikuti organisasi hingga larut malam demi percantik portofolio. Situasi tersebut semakin diperkuat oleh paparan media sosial yang terus menampilkan standar kesuksesan secara real-time, memunculkan rasa bersalah ketika tidak produktif (productivity guilt) hingga kecemasan tertinggal dari orang lain.

Melihat fenomena tersebut, Departemen Keilmuan BEM FEB UNAIR menggelar diskusi virtual “Prabu Adhikari Sarasehan Batch 1” pada Minggu (17/05/2026) melalui Zoom Meeting. Mengusung tema “Between Achievement and Exhaustion: Self-Awareness Mahasiswa dalam Menyeimbangkan Kompetisi Akademik dan Organisasi Kampus”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus respons atas meningkatnya persoalan kelelahan mental di kalangan mahasiswa.

Perwakilan Presiden BEM FEB UNAIR Christof Alfaro selaku Menteri Minat dan Bakat turut hadir sekaligus menyampaikan bahwa sarasehan ini berfungsi sebagai safe space bagi peserta untuk mengevaluasi batasan diri agar tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan psikologis mereka. “Nah karena banyak mahasiswa mengabaikan alarm tubuh mereka sendiri hingga jatuh ke dalam fase clinical burnout yang menurunkan kapasitas kognitif serta performa akademik,” jelasnya.

Kegiatan kemudian dikemas dalam format talkshow edukatif yang menghadirkan dua narasumber dengan pengalaman berbeda, yakni Head of Organizing Committee Airlangga Safe Space 2026 Salsabila Anugrah Pratiwi serta Runner Up Mahasiswa Berprestasi Universitas Airlangga 2026 Nur Sofwatun Nisak.

Akrab dengan sapaan Salsabila, ia menekankan bahwa self-awareness bukan kemampuan yang muncul secara instan, melainkan proses yang perlu dilatih secara perlahan melalui cara seseorang memahami dan memperlakukan dirinya sendiri. “Self-awareness harus dilatih pelan-pelan. Coba lihat bagaimana kita memperlakukan diri sendiri maupun orang lain. Run to your own race, bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu yang kemarin,” paparnya.

Menurutnya, kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain justru menjadi salah satu pemicu utama kelelahan mental pada mahasiswa. Karena itu, membangun kesadaran terhadap kapasitas dan kebutuhan diri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan psikologis.

Sementara itu, Nur Sofwatun Nisak menyoroti pentingnya menetapkan batasan diri (boundaries) dan mengelola waktu secara realistis. Ia menegaskan bahwa produktivitas tidak selalu berarti terus bekerja tanpa jeda. “Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Paling penting adalah memahami limit diri sendiri dan berani menentukan boundaries. Istirahat juga bagian dari produktivitas,” tuturnya.

Ia juga membagikan strategi sederhana seperti menyusun to do list serta menerapkan metode time blocking untuk membantu mahasiswa mengatur ritme aktivitas dan waktu istirahat secara lebih seimbang.

Sebagai penutup, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjadi versi terbaik dari diri sendiri tidak harus dibayar dengan kelelahan emosional maupun hilangnya keseimbangan hidup. Ambisi tetap penting untuk dirawat, tetapi kemampuan mengenali batas diri, memberi ruang untuk beristirahat, serta menjaga kesehatan mental merupakan bagian yang tidak kalah penting dalam proses bertumbuh.

Penulis: Aurora Sekarayu Dianning Hutami
Editor: Sintya Alfafa