
FEBNEWS – Ada satu kalimat yang dipegang erat oleh Rizka Syafittri Siregar sepanjang karirnya. “Saya selalu ingin menjadi good follower.” Pernyataan itu mungkin terdengar paradoks di telinga seorang Direktur Keuangan sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER). Namun, dibalik filosofi itulah, alumnus S1 Akuntansi FEB UNAIR angkatan 2007 ini membuktikan bahwa jalan menuju puncak kepemimpinan tidak selalu dimulai dengan ambisi menjadi bos, melainkan dengan kesungguhan menjadi pengikut yang baik dan belajar dari setiap pemimpin, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman.
Karir Rizka tidak dimulai dengan kemewahan. Setelah lulus S1 pada 2011, ia melangkah ke PT SIER bukan sebagai manajer, melainkan sebagai pelaksana akuntansi berstatus outsourcing. Dari sanalah ia menapaki anak tangga demi anak tangga. Divisi Human Capital pernah dipimpinnya, sebelum akhirnya pada 2021, di usia 33 tahun, ia dipercaya menduduki kursi Direktur Keuangan. Sebuah lompatan yang, diakuinya, semula terasa mustahil.
“Tantangan terbesar adalah mengubah mindset dari teknis menjadi fully strategis, dari followership menjadi leadership,” ujarnya. Namun, baginya, dua hal itu tak pernah benar-benar berpisah. Justru pengalamannya sebagai pengikut yang baik seperti memperhatikan, menyerap, berkolaborasi dengan berbagai tipe pemimpin, membentuk fondasi kepemimpinannya kini.
Sebagai Direktur Keuangan, ia bertanggung jawab tidak hanya pada pengelolaan keuangan dan strategi investasi dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG), tetapi juga human capital, pengadaan, dan manajemen risiko. Perusahaan kawasan industri seperti SIER, yang menjadi nadi aktivitas ekonomi di Surabaya dan sekitarnya, menuntut harmoni antara strategi bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia. Di sinilah filosofi good follower Rizka menemukan relevansinya.
“memimpin dengan membangun kolaborasi, membuka komunikasi, dan terus mengambil inisiatif,” paparnya.
Sebagai perempuan yang menduduki posisi strategis di usia relatif muda, Rizka sempat diliputi keraguan. “Awalnya saya berpikir mustahil untuk bisa menapaki karir hingga puncak. Peran sebagai Direktur sepertinya bukan hal yang pantas untuk saya sandang,” kenangnya. Namun, ia sadar bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender atau usia. “Jalan saja, pelajari saja, dan berusaha sebaik-baiknya saja.”
Prinsip itu ia buktikan dengan berbagai penghargaan yang menghampiri. Dari Business News – Human Capital & Performance Award sebagai Best Human Capital Future Leader (2021-2022), The Best Human Capital Women Director of The Year (2023), hingga masuk dalam daftar Infobank The 200 Future Leaders 2025 dan Indonesia 20 Most Innovative CFO Awards 2025 dari The Iconomics.
Jejaring profesional Rizka pun terbangun secara organik, melalui interaksi lintas BUMN dalam berbagai pelatihan dan proyek strategis. Kini sebagai direktur, ia memperluas sinergi dan kolaborasi antar BUMN maupun swasta. Keanggotaannya di Himpunan Kawasan Industri, Ikatan Akuntan Indonesia, dan Ikatan Alumni UNAIR menjadi wadah untuk terus memberi manfaat.
Baginya, UNAIR adalah bagian penting dari perjalanan ini. “Sebagai alumni, tentu aspek kerja sama dan kolaborasi perlu mendapat dukungan akademis, seperti rekrutmen, pelatihan, magang, hingga kajian dan riset,” jelasnya. Ia berkomitmen menjaga hubungan dua arah: berbagi ilmu dari dunia praktisi, sekaligus terus memperbarui wawasan dari akademisi terbaik UNAIR.
Pesan Rizka untuk generasi muda “Cerdas itu adalah saat kita bisa tetap open minded bahkan dalam situasi yang tidak menyenangkan.”
Penulis: Sintya Alfafa