
(FEB NEWS) Di tengah narasi besar tentang globalisasi talenta muda, kisah Qatrunnada Rahmadhani menunjukkan satu hal yang sering terlewat yaitu akses ke panggung internasional bukan semata soal kecerdasan, melainkan keberanian mengambil resiko sejak dini.
Alumni S1 Akuntansi FEB UNAIR angkatan 2015 tersebut kini bekerja sebagai Medior Corporate Action Specialist di ABN Amro Clearing Bank. Perannya tidak sederhana, ia menangani portofolio klien dalam aktivitas pasar modal, termasuk aksi korporasi seperti merger dan akuisisi yang kerap menentukan arah investasi.
Namun, jalur menuju posisi tersebut tidak dibangun dari keputusan yang sepenuhnya “aman”. Semasa kuliah, Qatrunnada memilih mengikuti program double degree yang saat itu belum banyak diminati. Program tersebut bahkan masih dalam tahap awal pengembangan.
Keputusannya bukan tanpa resiko. Selain tuntutan akademik yang lebih tinggi, ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan pendidikan dan sistem yang berbeda.
Hasilnya, ia lulus cum laude dari program kolaborasi antara UNAIR dan institusi di Belanda. Ia juga meraih Holland Top Talent Scholarship dan Orange Tulip Scholarship yaitu dua skema beasiswa yang relatif kompetitif bagi mahasiswa internasional.
Tetapi capaian akademik bukan inti ceritanya, melainkan menentukan bagaimana keputusan tersebut membuka akses ke jaringan dan peluang yang sebelumnya tidak tersedia.
Seperti banyak lulusan akuntansi, Qatrunnada sempat memulai karier di bidang corporate finance. Namun ia kemudian beralih ke sektor perbankan dan pasar modal pilihan yang tidak selalu linier dengan jalur awalnya.
Perpindahan ini diikuti dengan keputusan melanjutkan studi S2 untuk memperdalam spesialisasi. Langkah tersebut menjadi pintu masuk ke traineeship program di ABN Amro Clearing Bank program seleksi yang dikenal ketat.
Melalui perannya saat ini, Qatrunnada berada di lingkungan kerja dengan kompleksitas tinggi baik dari sisi regulasi, kecepatan transaksi, maupun dinamika pasar lintas negara. Aksi korporasi yang ia tangani tidak hanya berdampak pada satu perusahaan, tetapi dapat mempengaruhi keputusan investasi dalam skala yang lebih luas. Sehingga di sinilah ketelitian, pemahaman teknis, dan kemampuan membaca risiko menjadi krusial.
Namun, bekerja di sistem global juga berarti berhadapan dengan standar yang lebih tinggi baik dalam profesionalisme maupun kompetensi.
Selain pekerjaan formalnya, Qatrunnada tergabung dalam komunitas profesional Indonesia di Belanda melalui IPA NL (Indonesian Professional Association in the Netherlands). Organisasi tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus memperluas jejaring lintas sektor.
Ia juga terlibat dalam upaya mengaktifkan kembali jaringan alumni Universitas Airlangga di Belanda. Langkah tersebut menunjukkan bahwa mobilitas global tidak selalu berujung pada individualisme melainkan juga membuka ruang kolaborasi antar alumni di luar negeri.
Editor: Sintya Alfafa