BERITA

DEDIKASI RODAME MENEMBUS BATAS AKADEMIK DI TENGAH PERJUANGAN MENANTI BUAH HATI

DEDIKASI RODAME MENEMBUS BATAS AKADEMIK DI TENGAH PERJUANGAN MENANTI BUAH HATI

(FEB NEWS) Perjalanan doktoral sering kali digambarkan sebagai pendakian intelektual yang panjang dan melelahkan. Namun, bagi Rodame Monitorir Napitupulu, mahasiswa program S3 Ilmu Ekonomi Islam FEB UNAIR, memilih perjalanan ini sebagai sebuah narasi tentang keteguhan niat dan penemuan jati diri yang melampaui sekadar mengejar gelar akademis.

Memulai studi dengan latar belakang perjalanan spiritual yang baru, Rodame membawa keresahan sekaligus harapan besar ke dalam benaknya. Keputusannya mendalami Ekonomi Islam bukanlah sebuah kebetulan, melainkan ikhtiar untuk menyelami lebih dalam nilai-nilai kehidupan yang kini ia yakini. Sebagai seorang mualaf, ada sebuah tanggung jawab moral yang besar untuk membuktikan bahwa pilihan hidupnya mampu memberikan manfaat nyata, baik bagi kompetensinya sebagai dosen maupun bagi kemaslahatan umat melalui perspektif ekonomi yang berkeadilan.

Bagi banyak rekan sejawatnya, Rodame adalah sosok yang identik dengan kegigihan. Ia sering dijuluki sebagai “penunggu ruang doktor”, sebuah apresiasi atas dedikasinya yang sering kali berada di kampus hingga larut malam demi membedah literatur dan merangkai naskah riset. Padahal, ia memulai semuanya dari titik yang sangat mendasar.

Rodame mengaku pada awal studinya, ia belum akrab dengan dunia publikasi internasional bereputasi. Namun, keterbatasan itu justru ia jadikan bahan bakar. Lewat bimbingan suportif dari para pakar di FEB UNAIR, ia berhasil mengubah ketidaktahuan menjadi keunggulan.

Melalui kolaborasi riset yang intensif, Rodame sukses menembus standar global dengan meraih tiga publikasi pada jurnal internasional terindeks Scopus Q1 sebagai penulis pertama, ditambah lima artikel kolaboratif lainnya. Capaian ini menjadi bukti nyata bagaimana ekosistem pendidikan berkualitas di UNAIR mampu mentransformasi semangat individu menjadi prestasi yang diakui dunia, sejalan dengan semangat SDG 4 dan SDG 17.

Puncak dari ujian ketangguhannya terjadi saat ia harus menghadapi sidang doktoral dalam kondisi kehamilan 8 bulan. Di saat fisik menanggung beban yang tidak ringan, semangat intelektualnya justru menyala lebih terang. Ini adalah momen romantis sekaligus mengharukan ketika kontraksi fisik mulai terasa tepat sebelum pintu ruang ujian dibuka.
“Saya terus berkomunikasi dengan buah hati di dalam kandungan, memintanya untuk saling menguatkan agar proses ini bisa kami lalui bersama,” kenang Rodame.

Doa yang lirih dan keyakinan spiritual yang mendalam menjadi kekuatannya untuk tetap tenang menghadapi rentetan pertanyaan kritis dari para penguji. Baginya, momen tersebut bukan sekadar ujian akademis, melainkan pembuktian bahwa peran sebagai ibu dan akademisi adalah dua kemuliaan yang bisa berjalan beriringan.

Kisah Rodame mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki titik berangkat yang berbeda, namun niat yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Perjalanan spiritualnya sebagai seorang mualaf memberikan warna unik pada disertasinya.

“Keberhasilan ini adalah buah dari kekuatan niat dan dukungan ekosistem yang suportif. Semua fasilitas dan guru hebat di FEB UNAIR akan menjadi bermakna saat kita memiliki kesungguhan untuk terus belajar tanpa batas,” pungkasnya.

Melalui sosok Rodame, FEB UNAIR kembali menegaskan jati dirinya sebagai rahim bagi lahirnya para pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara intelegensi, tetapi juga matang secara spiritual dan tangguh secara karakter.

Penulis: Sintya Alfafa