
FEBNEWS- Brigitta Ayu Diantati atau akrap disapa Brigitta, lulusan sarjana Manajemen FEB UNAIR angkatan 2008, tak menyangka jalur kariernya akan dimulai dari tempat terpencil di Purwakarta yang jauh dari gambaran amannya bekerja di dekat rumah di Surabaya. โSaya pribadi yang penakut. Dulu saya hanya ingin kerja di Surabaya,โ akuinya. Namun, takdir membawanya justru ke jantung pembangkit listrik negara.
Sebagai anak baru di PLN Group sejak 2015, Brigitta harus berdamai dengan rutinitas harian yang menuntut kemandirian penuh. Indekos pertama, perjalanan panjang dengan bus jemputan, dan mengatur sendiri keuangan orang yang baru lulus kuliah. โTernyata bisa jadi terbiasa,โ katanya, menyadari bahwa rasa takut pelan-pelan tergantikan oleh daya tahan. Kini, setelah sembilan tahun mengabdi dan berpindah tugas ke PT PLN (Persero) Pusdiklat, Brigitta berdiri sebagai Assistant Manager Komunikasi & TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan). Posisinya tidak hanya merancang program sosial atau mengelola media perusahaan, tetapi menghubungkan koneksi antara PLN dengan masyarakat.
Menurutnya, setiap program TJSL yang ia desain dibangun dengan prinsip dampak nyata, sementara setiap informasi publik yang ia kelola harus jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan dari seorang โpenakutโ yang enggan jauh dari rumah menjadi seorang pemimpin yang mengelola suara dan kepedulian perusahaan raksasa, bukanlah lompatan instan. Ia menyebutnya sebagai proses โbertumbuhโ.
โBertumbuh bukan tentang cepat sampai,โ ujarnya, yang merujuk pada filosofi hidup yang ia pegang, โtapi tentang tetap peduli di setiap prosesnya.โ Peduli itulah yang kemudian ia balikan ke almamater.
Brigitta aktif berbagi sebagai pembicara dalam forum HIMA, membawa cerita nyata tentang dunia kerja yang tak selalu linear, tentang keberanian menghadapi ketidakpastian, dan tentang arti kontribusi sesungguhnya. Baginya, ilmu manajemen dari FEB UNAIR bukan tentang teori pengelolaan bisnis, tetapi alat untuk mengelola perubahan dalam diri, dalam perusahaan, dan dalam masyarakat.
Kini, ia menemukan kekuatannya di tempat yang tak pernah ia duga. Di tangannya, ketakutan pribadi berubah menjadi energi yang memberdayakan masyarakat, membuktikan bahwa kontribusi terhebat sering lahir dari langkah pertama yang paling berani.
Penulis: Sintya Alfafa