

(FEB NEWS) Surabaya – Alarm ketidakpastian geopolitik global yang mengancam stabilitas domestik memaksa para pemikir ekonomi turun tangan. Bila ditilik pada perekonomian Jawa Timur masih menyumbang 25,29 persen terbesar kedua di Pulau Jawa dan Nasional sebesar 14,40 persen. Jumlah penduduk hampir 42 juta lebih, menyebabkan struktur ekonomi dan tenaga kerja Jawa Timur diserap oleh sektor industri sebesar 14,9 persen. Namun, disparitas terjadi antar wilayah perekonomian utara-selatan.
Menjawab tantangan itu, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur dan FEB UNAIR menggelar Road To East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026 di Aula Fadjar Notonegoro, Kamis (05/03/2026).
Acara yang dirangkai dengan Diseminasi Buku Kajian Kebijakan Publik ISEI Seri 6.1 ini menjadi ruang dialog antara riset akademik dan kebutuhan kebijakan riil di lapangan. Sejak pagi, puluhan peneliti, dosen, dan mahasiswa memadati ruangan dan siap mendiskusikan gagasan segar untuk mendorong pertumbuhan Jatim yang tidak hanya unggul, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan.
Melalui sambutannya, Advisor Kepala BI Provinsi Jawa Timur Donni Fajar Anugrah, Ph.D mengenang perjalanan panjang EJAVEC yang telah memasuki tahun ke-13. Ia menceritakan bagaimana buku Kajian Kebijakan Publik ISEI ini bermula dari laporan sidang pleno sederhana pada 2020, lalu berkembang menjadi buku cetak pertama pada 2022, dan kini hadir sebagai buku seri Kajian Kebijakan Publik yang lebih sistematis.
“Saya sendiri terlibat sebagai juri di EJAVEC, Perkembangannya luar biasa,” ujarnya. Ia berharap EJAVEC terus menjadi wadah bagi mahasiswa dan akademisi untuk menyampaikan paper terbaiknya.
Ketua ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur Prof. Dr. Drs. Soni Harsono, M.Si menjelaskan bahwa rangkaian road to EJAVEC 2026 ini dirancang dengan pendekatan AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action). Setelah Surabaya, forum serupa akan digelar di Jember pada April dan di Universitas Brawijaya Malang. “Kami ingin setiap paper yang lahir dari forum ini tidak hanya berani menulis, tetapi juga berani bersuara. Buku KKP ISEI 6.1 ini adalah bukti bahwa hasil riset bisa diimplementasikan dan berdampak pada tujuan pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.
Dekan FEB UNAIR Prof Rudy Purwono menyambut antusiasme peserta yang terus meningkat setiap tahun. Sebagai tuan rumah pertama dalam rangkaian ini, FEB UNAIR berharap forum ini menjadi pengantar yang efektif sebelum diskusi berlanjut ke Jember dan Malang. “Kami ingin hasil kajian ini tersebar ke seluruh kabupaten/kota di Jatim. Karena kita tahu, kontribusi ekonomi Jatim adalah yang terbesar kedua setelah DKI Jakarta,” ujarnya.
Memasuki sesi keynote, Deputi Kepala Bank Indonesia Rifki Ismal PhD memaparkan tantangan aktual yang dihadapi daerah. Meski pertumbuhan Jatim solid, faktor eksternal seperti perang dagang dan ketegangan geopolitik tetap membayangi. “Kami melihat dan takjub dengan ketahanan ekonomi Jatim. Tapi tantangan ke depan adalah bagaimana memperkuat ketahanan pangan seperti contoh pasokan beras, tomat, wortel serta mengendalikan inflasi daerah,” paparnya. Ia juga mengumumkan rencana misi dagang ke Malaysia pada April mendatang, hasil kolaborasi Pemprov Jatim dan BI, yang diharapkan dapat membuka akses pasar baru.
Menariknya, Rifki secara terbuka mengundang para akademisi untuk menyumbangkan ide segar dari paper mereka. “Kami butuh masukan dari kampus untuk perbaikan kebijakan. Sinergi antara riset dan kebijakan adalah kunci,” pungkasnya.
Sesi demi sesi berlangsung cair namun tetap bernas. Para peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga mencatat dan mengajukan pertanyaan kritis. Buku KKP ISEI 6.1 yang didiseminasikan hari itu pun ludes dalam hitungan menit tanda bahwa kebutuhan akan riset kebijakan yang aplikatif memang sangat tinggi.
Penulis: Sintya Alfafa