BERITA

SERUKAN MAHASISWA JADI ENTREPRENEUR, DUA PENGUSAHA MUDA BUKTIKAN MENTAL ADALAH KUNCI UTAMA

SERUKAN MAHASISWA JADI ENTREPRENEUR, DUA PENGUSAHA MUDA BUKTIKAN MENTAL ADALAH KUNCI UTAMA

FEBNEWS- “Jangan pernah merasa matang, nanti akan busuk.” Kalimat itu meluncur tenang dari Bu Dien, Ketua Unit Kewirausahaan, Magang dan Relasi Industri FEB UNAIR, membuka sesi talkshow Empowering Young Entrepreneurs to Shape the Future di Aula Fadjar Notonegoro, Jumat (13/02/2026).

Tidak ada sambutan panjang. Hanya satu peringatan halus bahwa dalam kewirausahaan, merasa cukup adalah awal dari kemunduran. Dan dua pembicara yang duduk di panggung adalah bukti hidup bahwa mental juara tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menghadapi ketidakpastian.

Ichsanul Amal Rangga Inata memulai perjalanannya bukan dengan modal besar, tetapi dengan keyakinan bahwa ketidakmatangan adalah anugerah. Founder Berkah Senthosa Group ini pernah menjadi kontraktor, merambah properti, masuk bisnis umroh, mengakuisisi perusahaan fashion, mendirikan daycare, hingga membangun yayasan sosial.

Di mata orang, ia terlalu banyak cabang. Namun ia menyebutnya sebagai keberanian untuk tidak pernah merasa selesai. “Start bisa dari mana saja,” ujarnya. “Dari masalah orang terdekat, dari keluhan yang tidak didengar pasar, dari keahlian kecil yang dianggap remeh.” Ia lalu membagikan formula yang langsung dibidik kamera ponsel mahasiswa: modal pengusaha adalah 50 persen tenaga, 40 persen pikiran, dan hanya 10 persen uang.

Selain itu, Nur Rachmawati Fauziyah tidak kalah jujur. Direktur CV Moonzaya Indonesia ini pernah berada di dasar utang perbankan. Tahun 2020 menjadi titik baliknya bukan karena mendapat suntikan modal, tetapi karena ia berhasil membebaskan diri dari bank dan berjalan murni dengan uang sendiri. “Bisnis itu naik turun,” katanya, “yang membuat saya bertahan hanya satu, saya selalu menulis mimpi-mimpi saya.”

Melalui catatan-catatan itu, ia membangun Faradisa, grosir tasmurah Sidoarjo, hingga brand Moonzayu. Ia tidak hanya berjualan di Shopee, Lazada, dan Blibli, tetapi juga merancang kolaborasi dengan influencer, strategi afiliasi, dan konsinyasi melalui Teras Moonzaya. Tapi yang paling menggetarkan bukan strategi digitalnya. Melainkan buah hasil ketekunan yang tidak lahir dari keberanian. Ketekunan lahir dari kebiasaan bangkit setelah jatuh.

Sesi talkshow bertajuk Empowering Young Entrepreneurs to Shape the Future ini memang dirancang untuk menginspirasi. Namun, lebih dari itu, ia menjadi ruang terapi kolektif. Mahasiswa yang selama ini takut memulai karena menunggu “matang” atau “cukup siap” dipaksa berkaca, bahwa kedewasaan dalam berwirausaha tidak diukur dari lamanya persiapan, tetapi dari keberanian memulai meskipun belum sempurna.

Penulis: Sintya Alfafa