BERITA

FEB UNAIR GANDENG WALIKOTA SURABAYA DALAM ENTREPRENEUR DAY, SIAPKAN GEN Z JADI PETARUNG GLOBAL

FEB UNAIR GANDENG WALIKOTA SURABAYA DALAM ENTREPRENEUR DAY, SIAPKAN GEN Z JADI PETARUNG GLOBAL

(FEB NEWS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan. Melalui gelaran Entrepreneur Day, FEB UNAIR menyambut Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, dalam sesi talkshow bertajuk “Empowering Young Entrepreneurship to Shape the Future”. Acara ini dilakukan untuk merespons strategis dunia pendidikan terhadap ancaman disrupsi pasar kerja global.

Dekan FEB UNAIR, Prof. Dr. Rudy Purwono, SE., MSE., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehidupan kampus tidak boleh terisolasi dari realitas masyarakat. Interaksi mahasiswa dengan tokoh praktisi seperti Walikota menjadi jembatan penting, mengingat tantangan di luar gerbang kampus jauh lebih kompleks daripada teori di ruang kelas.

Dalam paparan kuncinya, Eri Cahyadi membuka fakta yang cukup menghentak mengenai masa depan ketenagakerjaan. Mengutip data World Economic Forum (WEF), ia menyebutkan bahwa hingga tahun 2030, diperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang akibat otomatisasi dan perubahan teknologi. Namun, meski demikian terdapat peluang lahirnya 170 juta pekerjaan baru.

“Pasar kerja tetap tumbuh, tetapi karakteristiknya berubah total. Pemicunya adalah AI, Big Data, transisi energi hijau, hingga perubahan geopolitik,” ujar Eri di hadapan ratusan mahasiswa.

Mantan birokrat yang kini memimpin Surabaya itu membagikan pengalaman personalnya yang jarang diketahui publik. Sebelum berdiri di podium, Eri mengaku pernah berdagang beras hingga berjualan ternak kambing dan sapi. Pengalaman lapangan inilah yang membentuk mentalitasnya. Baginya, ijazah tinggi tidak menjamin kesuksesan jika tidak dibarengi dengan mental “petarung”.

Eri menyoroti fenomena “Indonesia Darurat Pengusaha”. Menurutnya, banyak generasi muda menjadikan wirausaha hanya sebagai pelarian saat gagal melamar kerja, bukan sebagai pilihan utama. Padahal, data menunjukkan 63 persen perusahaan global mengeluhkan kesenjangan keterampilan (skills gap). Mayoritas pekerja saat ini dinilai belum adaptif terhadap perubahan zaman, sebuah sinyal bahwa kurikulum pendidikan harus segera berbenah.

Di tengah gempuran digitalisasi yang telah diterapkan secara masif di Pemkot Surabaya untuk memangkas inefisiensi administrasi, Eri menekankan satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin yaitu Empati dan Kepemimpinan.

“Teknologi tidak punya rasa, tidak punya kepemimpinan. Manusia memilikinya. Pemimpin masa depan wajib memiliki empati dan kemampuan berkolaborasi. Jangan pernah merasa paling pintar sendiri,” tegasnya.

Eri menutup sesinya dengan tantangan terbuka bagi mahasiswa FEB UNAIR. Ia percaya bahwa kekuatan sebuah kota terletak pada sumber daya manusianya. Jika mahasiswa memiliki karakter petarung, kolaboratif, dan adaptif terhadap teknologi bukan sebaliknya diperbudak teknologi maka Surabaya akan menjadi jantung pengembangan pengusaha muda yang disegani di level global.

Penulis: Sintya Alfafa