
FEBNEWS – Ada pemandangan ganjil di lanskap ekonomi Indonesia sepekan terakhir. Di satu sisi, lantai bursa sedang mabuk kepayang. Dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat menembus plafon psikologis 9.000. Namun, di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru sedang melemah, nyaris menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Dua indikator yang lazimnya berjalan beriringan ini, kini justru saling memunggungi.
Guru Besar Investasi dan Keuangan Islam FEB UNAIR, Prof. Dr. Imron Mawardi, SP., M.Si., dalam analisis tajamnya di Harian Disway (28/01/2026), menyebut fenomena ini sebagai anomali besar tahun 2025. Normalnya, “pesta” di pasar modal adalah hasil dari capital inflow asing yang deras, yang secara otomatis akan memperkuat otot Rupiah.
Namun kali ini, berbeda. Pasar saham berpesta pora di tengah “terpuruknya” mata uang nasional. Menurut Prof. Imron, ini adalah sinyal bahaya. Artinya kenaikan indeks sebesar 26,8 persen dalam setahun terakhir yang jauh melampaui bursa New York bahkan Shanghai ternyata berkorelasi negatif dengan Rupiah yang justru terdepresiasi. Ilusi Valuasi dan “Gorengan” Saham, lantas apa yang menyebabkan naiknya IHSG jika bukan fundamental ekonomi yang solid? Prof. Imron menyingkap tabir rapuhnya struktur pasar modal kita.
Kenaikan indeks ternyata tidak ditopang oleh pemerataan kinerja emiten, melainkan didominasi oleh segelintir raksasa. Sekitar 40 persen kapitalisasi pasar hanya dikuasai oleh 10 emiten. Yang mengerikan, valuasi saham-saham “penguasa” ini sudah di luar nalar sehat.
Prof. Imron menyoroti rasio harga terhadap laba (Price to Earning Ratio/PER) emiten besar Indonesia yang tembus 100 kali, bahkan ada yang mencapai 1.000 kali. Sebagai perbandingan, raksasa teknologi dunia seperti Apple hanya 35-40 kali, Microsoft 33-38 kali, Nvidia 50-55 kali dan tesla pun “hanya” 200 kali. Artinya, ada indikasi kuat intervensi pasar atau praktik “goreng saham” yang masif.
Dengan aturan free float (saham publik) yang minim hanya 7,5 persen para pemegang saham pengendali leluasa menyetir harga, menciptakan valuasi semu yang membuat kekayaan mereka melonjak di atas kertas, sementara risiko sistemik mengintai investor ritel.
Jebakan Deindustrialisasi dan Dominasi Fiskal Anomali ini juga membuka realitas struktur ekonomi Indonesia yang mengalami gejala deindustrialisasi. Pasar modal kini tidak lagi sensitif terhadap arus modal asing, melainkan bergantung pada emiten berbasis komoditas. Bagi perusahaan tambang dan perkebunan, Rupiah yang lemah adalah berkah terselubung karena pendapatan ekspor mereka dalam dolar akan melonjak ketika dikonversi. Inilah yang menjelaskan mengapa IHSG bisa tetap hijau saat Rupiah memerah.
Di sisi makro, Prof. Imron mengingatkan bahwa pelemahan Rupiah bukan semata karena faktor eksternal seperti fly to quality akibat kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump atau konflik geopolitik. Ada “luka dalam” yaitu defisit fiskal yang membengkak hingga 2,92 persen dari PDB di tahun 2025.
Pelebaran defisit ini melahirkan persepsi fiscal dominance, di mana otoritas moneter (Bank Indonesia) seolah tersandera oleh kebutuhan menambal APBN yang boros, menggerus independensi bank sentral. Akibatnya, kepercayaan investor global luntur. Mereka memilih membuang aset rupiah dan memburu dolar atau emas, memperparah depresiasi mata uang Indonesia yang kini terlemah di antara mata uang utama dunia, kecuali dibanding Rupee India dan Dong Vietnam.
Ia mengingatkan bahwa angka 9.000 di papan bursa bisa jadi hanyalah fatamorgana yang menutupi kerapuhan fundamental. Jika otoritas tidak segera membenahi struktur pasar modal yang timpang dan menambal kebocoran fiskal, besar kemungkinan sedang berdansa di bibir jurang krisis yang sesungguhnya.
FEB UNAIR mengapresiasi kontribusi pemikiran akademisi dalam memperkaya diskusi publik terkait stabilitas makroekonomi, dinamika pasar keuangan, dan penguatan tata kelola pasar modal. Opini lengkap dapat dibaca melalui tautan berikut: https://harian.disway.id/read/926055/anomali-rupiah-pasar-modal