𝐌𝐞𝐫𝐝𝐞𝐀𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐒 π‘πžπ¬πžπ¬π’ 𝐄𝐀𝐨𝐧𝐨𝐦𝐒 oleh Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D. (Opini Jawa Pos)

  • By Humas FEB
  • In FEB News
  • Posted 19 Agustus 2020

𝐌𝐞𝐫𝐝𝐞𝐀𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐒 π‘πžπ¬πžπ¬π’ 𝐄𝐀𝐨𝐧𝐨𝐦𝐒
Badri Munir Sukoco
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga

 

Kemerdekaan Indonesia telah memasuki usia ke-75 tahun. Puji syukur patut dipanjatkan oleh seluruh bangsa Indonesia, karena beragam peristiwa besar yang dikhawatirkan akan memecah belah Indonesia justru tidak terjadi. Konflik berkepanjangan pasca kemerdekaan, G30S PKI, Reformasi dan Krisis Ekonomi yang menjadi multidomensi pada 1998, serta Krisis Ekonomi 2008 adalah beberapa peristiwa besar dan berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Namun Indonesia tetap bersatu teguh, bahkan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 7 dunia pada 2019 (π‘Šπ‘œπ‘Ÿπ‘™π‘‘ πΈπ‘π‘œπ‘›π‘œπ‘šπ‘–π‘ πΉπ‘œπ‘Ÿπ‘’π‘š, 2019). Hal ini mendasari dicanangkannya visi Kabinet Indonesia Maju untuk lepas dari π‘šπ‘–π‘‘π‘‘π‘™π‘’ π‘–π‘›π‘π‘œπ‘šπ‘’ π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘ dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Namun pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 merubah semua. πΏπ‘œπ‘π‘˜π‘‘π‘œπ‘€π‘› disertai pembatasan mobilitas manusia menjadikan volume penerbangan turun hingga 82%, 7,5 juta penerbangan dibatalkan, turunnya pendapatan mencapai 55%, serta hilangnya pekerjaan bagi 50 juta orang di seluruh dunia (πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘›π‘Žπ‘™ π΄π‘–π‘Ÿ π‘‡π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘ π‘π‘œπ‘Ÿπ‘‘ π΄π‘ π‘ π‘œπ‘π‘–π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘›β€“IATA, 2020). Tentu industri ikutannya terdampak sangat besar, khususnya pariwisata, hotel, restoran, maupun jasa angkutan darat (penumpang). Adapun pergerakan barang dan jasa melalui ekspor dan impor mengalami penurunan volume antara 13-23% (Bank Dunia, 2020).

Kondisi diatas menjadikan resesi ekonomi dunia nyata adanya, tidak terkecuali Indonesia. Menurut Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian, Indonesia mengalami pertumbuhan -5,32% pada kuartal II, dan diproyeksikan menjadi -1% pada kuartal III tahun ini. Kondisi ini diperparah akan lambatnya eksekusi belanja negara, menjadikan Presiden Joko Widodo memarahi para pembantunya dalam beberapa kesempatan terakhir.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi merupakan perbandingan produk domestik bruto (PDB) antara tahun ini dibandingkan tahun lalu. PDB terdiri atas konsumsi rumah tangga, investasi, belanja negara, dan ekspor dikurangi impor. Uraian diatas menunjukkan 3 faktor terakhir sulit diharapkan, sehingga konsumsi rumah tangga menjadi harapan terbesar bagi Indonesia untuk terlepas dari resesi.

Bagaimana Indonesia meningkatkan konsumsi rumah tangga agar terhindar dari resesi ekonomi?

𝐄𝐀𝐨𝐧𝐨𝐦𝐒 𝐍𝐚𝐫𝐚𝐭𝐒𝐟
π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘£π‘’ πΈπ‘π‘œπ‘›π‘œπ‘šπ‘–π‘π‘  (2019), buku yang ditulis Prof. Robert J. Shiller (pemenang Nobel Bidang Ekonomi tahun 2013) berargumentasi bahwa mempelajari cerita yang sedang trending adalah langkah awal dan penting bagi pengambil kebijakan untuk memahami perilaku ekonomi individu dan masyarakat. Kemampuan pengambil kebijakan untuk memprediksi, mempersiapkan, dan mengurangi dampak krisis ekonomi (bahkan resesi maupun depresi) akan meningkat dengan memahami Ekonomi Naratif.

Terdapat 2 elemen yang akan mempengaruhi π‘’π‘π‘–π‘‘π‘’π‘šπ‘–π‘œπ‘™π‘œπ‘”π‘¦ π‘œπ‘“ π‘›π‘Žπ‘Ÿπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘£π‘’π‘ : Pertama, cerita π‘€π‘œπ‘Ÿπ‘‘-π‘œπ‘“-π‘šπ‘œπ‘’π‘‘β„Ž yang menjadikan cerita menjalar. Kedua, upaya yang dilakukan guna membuat cerita baru yang menjalar (𝑛𝑒𝑀 π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘Žπ‘”π‘–π‘œπ‘’π‘  π‘ π‘‘π‘œπ‘Ÿπ‘–π‘’π‘ ) atau membuat cerita semakin menjalar (π‘šπ‘Žπ‘˜π‘’ π‘šπ‘œπ‘Ÿπ‘’ π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘Žπ‘”π‘–π‘œπ‘’π‘ ). Apakah cerita yang disampaikan benar atau salah (β„Žπ‘œπ‘Žπ‘₯), akan ditransmisikan oleh π‘€π‘œπ‘Ÿπ‘‘-π‘œπ‘“-π‘šπ‘œπ‘’π‘‘β„Ž, media berita, dan tentunya π‘ π‘œπ‘π‘–π‘Žπ‘™ π‘šπ‘’π‘‘π‘–π‘Ž. Perekonomian akan terdorong karena naratif yang ada, baik positif maupun negatif, mempengaruhi bagaimana konsumen akan berkonsumsi, berinvestasi, menabung, dan melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Meskipun Ekonomi Naratif ini penting, namun banyak pengambil kebijakan maupun ahli ekonomi kurang memberi perhatian.

Ukuran yang bisa digunakan untuk melihat cerita apa yang ada di masyarakat adalah π‘π‘œπ‘›π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ÿ π‘π‘œπ‘›π‘“π‘–π‘‘π‘’π‘›π‘π‘’ 𝑖𝑛𝑑𝑒π‘₯ - CCI maupun 𝑏𝑒𝑠𝑖𝑛𝑒𝑠𝑠 π‘π‘œπ‘›π‘“π‘–π‘‘π‘’π‘›π‘π‘’ 𝑖𝑛𝑑𝑒π‘₯ – BCI. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh π‘‚π‘Ÿπ‘”π‘Žπ‘›π‘–π‘§π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘œπ‘“ πΈπ‘π‘œπ‘›π‘œπ‘šπ‘–π‘ πΆπ‘œ-π‘œπ‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘› π‘Žπ‘›π‘‘ π·π‘’π‘£π‘’π‘™π‘œπ‘π‘šπ‘’π‘›π‘‘ (OECD, 2020), Indonesia memiliki CCI tertinggi pada Desember 2019 (100,39) dan Januari 2020 (100,22), bahkan dibandingkan rerata tahun 2019. Sejak pandemi Covid-19, CCI Indonesia turun dan terendah pada Mei 2020 (91,34), meskipun mulai naik pada Juli 2020 (94,12). Bagaimana dengan China, negara asal pandemi? Sepanjang 2019 memiliki rata2 CCI sebesar 99,15, dan jatuh ke level terendah pada Februari 2020 (85,43). Pada bulan Juli, levelnya mulai bangkit ke level 97,94. Sebelum terjadinya pandemi, Amerika Serikat (AS) memiliki rerata 99,35 pada CCI. Menariknya, meskipun jumlah penderita yang positif Covid-19 dan meninggal karenanya terbesar di dunia, level CCI naik hingga 97,47 bulan lalu (terendah pada bulan April: 92,63). Hal ini akan berakibat pada tumbuhnya konsumsi domestik di China dan AS lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.

Untuk BCI, rerata 37 negara anggota OECD sebesar 98,39 dalam 6 bulan terakhir. Sedangkan Indonesia mulai menurun dari awal tahun 2020 ke level 98,37 (Juni), turun tipis dibandingkan rerata tahun 2019 (99,57). Adapun AS sempat mengalami penurunan selama 3 bulan berturut-turut (Maret, April, dan Mei 2020), menariknya pada bulan Juni justru meningkat ke level 100,18. China mengalami level BCI terendah pada Februari (94,52) (jauh lebih rendah dibandingkan rerata 2019 yang mencapai 98,11). Namun pada Juni meningkat menjadi 99.44. Tentu tren yang semakin membaik pada level BCI (OECD, AS, China, dan Indonesia) ini menunjukkan bahwa para pebisnis memiliki tingkat optimisme yang tinggi bahwa resesi ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 akan segera berakhir.

Selain itu, survei dwi-mingguan yang dilakukan oleh McKinsey pada 45 negara menunjukkan penduduk negara Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Meksiko akan mengurangi pengeluaran rumah tangganya > 20% dalam 2 bulan ke depan. Menariknya, Indonesia memiliki level tertinggi di dunia untuk penduduk yang berencana meningkatkan pengeluaran rumah tangganya > 25%. Dari sisi optimism, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan China memiliki penduduk yang paling optimis dibandingkan negara lain. Indonesia memiliki peringkat optimisme ke-7, dibawah India.

Rekomendasi
Pada ulang tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, kita sedang diuji bersama negara di seluruh dunia dengan pandemi Covid-19 dan resesi yang bila salah kelola bisa menjadi depresi ekonomi. Pemulihan ekonomi yang ditugaskan kepada Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi perlu memahami perilaku ekonomi masyarakat, dan Ekonomi Naratif dapat menjadi alternatif pendekatan yang efektif.

Menurut Badan Pusat Statistik (2019), konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 56,62% PDB Indonesia. Dari jumlah tersebut, π‘šπ‘–π‘‘π‘‘π‘™π‘’ π‘π‘™π‘Žπ‘ π‘  (MC) Indonesia yang berjumlah 52 juta orang menyumbang setengah konsumsi rumah tangga (Bank Dunia, 2020). Yang patut menjadi perhatian bagi pemerintah adalah MC 1 (Rp. 1,2-3,2 juta per orang per bulan) memiliki proporsi 90%, adapun MC 2 (Rp. 3,2-6 juta) hanya 10%. Resesi yang terjadi saat ini sangat riskan bagi MC 1 untuk turun ke π‘Žπ‘ π‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘šπ‘–π‘‘π‘‘π‘™π‘’ π‘π‘™π‘Žπ‘ π‘  (AMC, Rp. 532 ribu-1,2 juta) sehingga konsumsi rumah tangga di Indonesia sulit untuk tumbuh. Tentu percepatan belanja negara sebesar Rp. 1.700 triliun pada Kuartal 3 dan 4 bisa menjadi harapan, khususnya bantuan langsung ke masyarakat maupun program lain untuk UKM guna meningkatkan konsumsi dan menggerakkan perekonomian.

Uraian diatas menunjukkan Indonesia memiliki kondisi yang menjanjikan untuk bangkit dari resesi ekonomi. Optimisme yang dimiliki oleh penduduk Indonesia disertai kesediaan untuk berbelanja adalah kunci peningkatan konsumsi rumah tangga di Indonesia. Penciptaan harapan dan optimisme baru yang diyakini masyarakat (baik konsumen maupun pebisnis) serta menjadikannya viral adalah resep utama Indonesia segera merdeka dari resesi ekonomi. Dan tentunya protokol kesehatan menjadi prasyarat utama agar Indonesia tidak mengalami gelombang kedua Covid-19 dan malah memperpanjang resesi ekonomi yang akan dialami.

Sumber:

Hits 297

Berita Terbaru