?????????????????????????????? ???????????????? ???????????????????????? ??????????????????????????????
Badri Munir Sukoco
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga
Kemerdekaan Indonesia telah memasuki usia ke-75 tahun. Puji syukur patut dipanjatkan oleh seluruh bangsa Indonesia, karena beragam peristiwa besar yang berdiskusi akan memecah belah Indonesia justru tidak terjadi. Konflik yang terjadi pasca kemerdekaan, G30S PKI, Reformasi dan Krisis Ekonomi yang menjadi multidomensi pada tahun 1998, serta Krisis Ekonomi 2008 merupakan beberapa peristiwa besar dan berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Namun Indonesia tetap bersatu teguh, bahkan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 7 dunia pada tahun 2019 (????????????????????? ???????????????????????????????? ?????????????????????, 2019). Hal ini mendasari dicanangkannya visi Kabinet Indonesia Maju untuk lepas dari ???????????????????????? ???????????????????????? ???????????????? dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045.
Namun pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 mengubah segalanya. ?????????????????????????????????? Disertai mobilitas manusia menjadikan volume penerbangan turun hingga 82%, 7,5 juta penerbangan dibatalkan, turunnya pendapatan mencapai 55%, serta hilangnya pekerjaan bagi 50 juta orang di seluruh dunia (??????????????????????????????????????????????????? ???????????? ??????????????????????????????????????? ????????????????????????????????????????????–IATA, 2020). Tentu industrinya ikut terdampak sangat besar, khususnya pariwisata, hotel, restoran, maupun jasa angkutan darat (penumpang). Adapun pergerakan barang dan jasa melalui ekspor dan impor mengalami penurunan volume antara 13-23% (Bank Dunia, 2020).
Kondisi di atas menjadikan resesi ekonomi dunia menjadi nyata, tidak terkecuali Indonesia. Menurut Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian, Indonesia mengalami pertumbuhan -5,32% pada kuartal II, dan diproyeksikan menjadi -1% pada kuartal III tahun ini. Kondisi ini diperparah akan lambatnya eksekusi belanja negara, menjadikan Presiden Joko Widodo memarahi para pembantunya dalam beberapa kesempatan terakhir.
Secara umum, pertumbuhan ekonomi merupakan perbandingan produk domestik bruto (PDB) antara tahun ini dibandingkan tahun lalu. PDB terdiri atas konsumsi rumah tangga, investasi, belanja negara, dan ekspor dikurangi impor. Uraian diatas menunjukkan 3 faktor terakhir sulit diharapkan, sehingga konsumsi rumah tangga menjadi harapan terbesar bagi Indonesia untuk terlepas dari resesi.
Bagaimana Indonesia meningkatkan konsumsi rumah tangga agar terhindar dari ekonomi resesif?
???????????????????????????? ????????????????????????????
??????????????????????????????????????? ??????????????????????????????????????? (2019), buku yang ditulis Prof. Robert J. Shiller (pemenang Nobel Bidang Ekonomi tahun 2013) berargumentasi bahwa mempelajari cerita yang sedang trending adalah langkah awal dan penting bagi pengambil kebijakan untuk memahami perilaku ekonomi individu dan masyarakat. Kemampuan pengambil kebijakan untuk memprediksi, mempersiapkan, dan mengurangi dampak krisis ekonomi (bahkan resesi maupun depresi) akan meningkat dengan pemahaman Ekonomi Naratif.
Terdapat 2 unsur yang akan mempengaruhi ????????????????????????????????????????????????? ???????? ?????????????????????????????????????????????: Pertama, cerita ??????????????????-?????????-????????????????ℎ yang menjadikan cerita menjalar. Kedua, upaya yang dilakukan guna membuat cerita baru yang menjalar (???????????? ???????????????????????????????????? ??????????????????????????????) atau membuat cerita semakin menjalar (?????????????????? ??????????????? ??????????????????????????????????????????). Apakah cerita yang disampaikan benar atau salah (ℎ????????????), akan ditransmisikan oleh ??????????????????-?????????-????????????????ℎ, media berita, dan tentunya ????????????????????????? ?????????????????????. Perekonomian akan terdorong karena naratif yang ada, baik positif maupun negatif, mempengaruhi bagaimana konsumen akan berkonsumsi, berinvestasi, menabung, dan melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Meskipun Ekonomi Naratif ini penting, namun banyak pengambil kebijakan maupun ahli ekonomi kurang memperhatikan.
Ukuran yang bisa digunakan untuk melihat cerita apa yang ada di masyarakat adalah ???????????????????????????????????? ?????????????????????????????????????????? ????????????????????? – CCI maupun ????????????????????????????????? ?????????????????????????????????????????? ????????????????????? – BCI. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh ???????????????????????????????????????????????? ???????? ?????????????????????????????????? ?????????-???????????????????????????????????? ???????????? ????????????????????????????????????????????? (OECD, 2020), Indonesia memiliki CCI tertinggi pada Desember 2019 (100,39) dan Januari 2020 (100,22), bahkan dibandingkan rata-rata tahun 2019. Sejak pandemi Covid-19, CCI Indonesia turun dan terendah pada Mei 2020 (91,34), meskipun mulai naik pada Juli 2020 (94,12). Bagaimana dengan China, negara asal pandemi? Sepanjang tahun 2019 memiliki rata2 CCI sebesar 99,15, dan jatuh ke level terendah pada Februari 2020 (85,43). Pada bulan Juli, levelnya mulai bangkit ke level 97,94. Sebelum terjadinya pandemi, Amerika Serikat (AS) memiliki rata-rata 99,35 pada CCI. Menariknya, meskipun banyak penderita yang positif Covid-19 dan meninggal karenanya terbesar di dunia, tingkat CCI naik hingga 97,47 bulan lalu (terendah pada bulan April: 92,63). Hal ini akan berdampak pada tumbuhnya konsumsi domestik di China dan AS lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.
Untuk BCI, rata-rata 37 negara anggota OECD sebesar 98,39 dalam 6 bulan terakhir. Sedangkan Indonesia mulai menurun dari awal tahun 2020 ke level 98,37 (Juni), turun tipis dibandingkan rata-rata tahun 2019 (99,57). Adapun AS sempat mengalami penurunan selama 3 bulan berturut-turut (Maret, April, dan Mei 2020), menariknya pada bulan Juni justru meningkat ke level 100,18. Tiongkok mengalami level BCI terendah pada bulan Februari (94,52) (jauh lebih rendah dibandingkan rerata 2019 yang mencapai 98,11). Namun pada bulan Juni meningkat menjadi 99.44. Tentu saja tren yang semakin membaik pada level BCI (OECD, AS, China, dan Indonesia) ini menunjukkan bahwa para pebisnis memiliki tingkat optimisme yang tinggi bahwa resesi ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 akan segera berakhir.
Selain itu, survei dwi-mingguan yang dilakukan oleh McKinsey di 45 negara menunjukkan penduduk negara Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Meksiko akan mengurangi pengeluaran rumah tangganya > 20% dalam 2 bulan ke depan. Menariknya, Indonesia memiliki level tertinggi di dunia untuk penduduk yang berencana meningkatkan pengeluaran rumah tangganya > 25%. Dari sisi optimisme, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan China memiliki penduduk yang paling optimis dibandingkan negara lain. Indonesia memiliki peringkat optimisme ke-7, dibawah India.
Rekomendasi
Pada ulang tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia, kami sedang diuji bersama negara di seluruh dunia dengan pandemi Covid-19 dan resesi yang bila salah kelola bisa menjadi depresi ekonomi. Pemulihan ekonomi yang ditugaskan pada Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi perlu memahami perilaku ekonomi masyarakat, dan Ekonomi Naratif dapat menjadi pendekatan alternatif yang efektif.
Menurut Badan Pusat Statistik (2019), konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 56,62% PDB Indonesia. Dari jumlah tersebut, ???????????????????????? ????????????????????? (MC) Indonesia yang berjumlah 52 juta orang menyediakan setengah konsumsi rumah tangga (Bank Dunia, 2020). Yang patut menjadi perhatian bagi pemerintah adalah MC 1 (Rp. 1,2-3,2 juta per orang per bulan) memiliki proporsi 90%, adapun MC 2 (Rp. 3,2-6 juta) hanya 10%. Resisi yang terjadi saat ini sangat riskan bagi MC 1 untuk turun ke ?????????????????????????????????? ???????????????????????? ????????????????????? (AMC, Rp. 532 ribu-1,2 juta) sehingga konsumsi rumah tangga di Indonesia sulit untuk tumbuh. Tentu percepatan belanja negara sebesar Rp. 1.700 triliun pada Kuartal 3 dan 4 bisa menjadi harapan, khususnya bantuan langsung kepada masyarakat maupun program lain untuk UKM guna meningkatkan konsumsi dan menggerakkan perekonomian.
Uraian diatas menunjukkan Indonesia memiliki kondisi yang menjanjikan untuk bangkit dari resesi ekonomi. Optimisme yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia disertai kesediaan untuk berbelanja adalah kunci peningkatan konsumsi rumah tangga di Indonesia. Penciptaan harapan dan optimisme baru yang dipercaya masyarakat (baik konsumen maupun pebisnis) serta menjadikannya viral adalah resep utama Indonesia segera merdeka dari resesi ekonomi. Dan tentunya protokol kesehatan menjadi prasyarat utama agar Indonesia tidak mengalami gelombang kedua Covid-19 dan malah memperpanjang resesi ekonomi yang akan dialami.
Sumber: