
{"id":28233,"date":"2026-04-15T11:39:11","date_gmt":"2026-04-15T04:39:11","guid":{"rendered":"https:\/\/feb.unair.ac.id\/?p=28233"},"modified":"2026-04-16T11:47:52","modified_gmt":"2026-04-16T04:47:52","slug":"menguji-peran-sukuk-untuk-mengentaskan-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/feb.unair.ac.id\/berita-feb\/menguji-peran-sukuk-untuk-mengentaskan-kemiskinan\/","title":{"rendered":"MENGUJI PERAN SUKUK UNTUK MENGENTASKAN KEMISKINAN"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"724\" data-id=\"28235\" src=\"https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1-1024x724.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-28235\" srcset=\"https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1-1024x724.jpeg 1024w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1-300x212.jpeg 300w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1-768x543.jpeg 768w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1-1536x1086.jpeg 1536w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair1.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"724\" data-id=\"28236\" src=\"https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair-1024x724.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-28236\" srcset=\"https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair-1024x724.jpeg 1024w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair-300x212.jpeg 300w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair-768x543.jpeg 768w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair-1536x1086.jpeg 1536w, https:\/\/feb.unair.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/menguji-peran-sukuk_feb-unair.jpeg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(FEB NEWS) Di tengah geliat industri keuangan syariah yang kian berkembang, muncul satu tanda tanya besar yaitu apakah instrumen keuangan syariah seperti sukuk benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan inilah menjadi titik tolak kuliah tamu bertajuk \u201cModelling Sukuk as an Inclusive Financial Instrument for Poverty Alleviation in Malaysia\u201d yang disampaikan oleh Prof Ts Dr Shafinar Ismail dari Fakultas Bisnis dan Manajemen Universiti Teknologi MARA, Malaysia pada Rabu (15\/04\/2026) bertempat di Ruang 207 Gedung FEB UNAIR.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegelisahan akan tingginya pertumbuhan sektor keuangan yang belum sepenuhnya diiringi dengan pemerataan akses dan dampak ekonomi bagi kelompok rentan. Sehingga inklusi keuangan masih berhenti pada akses namun belum menjelma menjadi perubahan kesejahteraan yang konkret.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui paparannya, Prof. Shafinar menegaskan bahwa inklusi keuangan memiliki peran strategis dalam menciptakan distribusi ekonomi yang lebih adil. Akses terhadap layanan keuangan memungkinkan masyarakat untuk menabung, berinvestasi, hingga mengelola risiko.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, ia mengingatkan bahwa akses semata tidak cukup. \u201cAkses keuangan adalah langkah awal, tetapi dampak sosial-ekonomi ditentukan oleh bagaimana akses tersebut dimanfaatkan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pernyataan ini menjadi kritik halus terhadap pendekatan inklusi keuangan yang selama ini lebih menitikberatkan pada perluasan jangkauan layanan, tanpa memastikan efektivitas penggunaannya bagi kelompok berpenghasilan rendah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai salah satu instrumen unggulan dalam keuangan syariah, sukuk selama ini dikenal sebagai alat pembiayaan proyek berskala besar baik korporasi maupun pemerintah. Namun, dibalik reputasi tersebut, terdapat celah yang jarang dibahas.<br>Prof. Shafinar mengungkap bahwa sukuk masih memiliki keterbatasan struktural dalam menjangkau pembiayaan berbasis sosial, khususnya untuk pengentasan kemiskinan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa tantangan utama yang disoroti antara lain:<br>\u25cf Fokus sukuk yang masih dominan pada proyek berskala besar<br>\u25cf Biaya struktur yang tinggi sehingga tidak ramah bagi proyek kecil<br>\u25cf Minimnya model sukuk yang secara spesifik menyasar kelompok berpenghasilan rendah<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi tersebut membuat sukuk, yang seharusnya memiliki potensi besar sebagai instrumen inklusif, belum sepenuhnya optimal dalam menjawab persoalan kemiskinan.<br>Di luar aspek struktural, tantangan lain muncul dari sisi kelembagaan. Regulasi yang belum terstandarisasi antarnegara, perbedaan interpretasi syariah, hingga kompleksitas kepatuhan turut menjadi hambatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKurangnya standardisasi menciptakan inkonsistensi dalam struktur sukuk dan meningkatkan biaya implementasi,\u201d jelasnya. Akibatnya, inovasi dalam instrumen ini berjalan lebih lambat dari kebutuhan lapangan yang terus berkembang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurutnyanya masa depan sukuk terletak pada kemampuannya untuk:<br>\u25cf Mengintegrasikan tujuan sosial dalam desain instrumen<br>\u25cf Menyasar kelompok rentan secara lebih spesifik<br>\u25cf Mengedepankan kolaborasi lintas pemangku kepentingan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan ini pada akhirnya mengajak peserta untuk menggeser cara pandang yang semula menganggap sukuk sebagai instrumen finansial, namun kini menjadi alat yang mampu menghasilkan dampak sosial nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor: Sintya Alfafa<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(FEB NEWS) Di tengah geliat industri keuangan syariah yang kian berkembang, muncul satu tanda tanya besar yaitu apakah instrumen keuangan syariah seperti sukuk benar-benar menyentuh kelompok yang paling membutuhkan? Pertanyaan inilah menjadi titik tolak kuliah tamu bertajuk \u201cModelling Sukuk as an Inclusive Financial Instrument for Poverty Alleviation in Malaysia\u201d yang disampaikan oleh Prof Ts Dr [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":100,"featured_media":28236,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-28233","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-feb"]}